"We live in a beautiful world.. Yeah we do, Yeah we do..." (Don't Panic-Coldplay)
Sekian lama tak berjumpa dengan alam..
Lama tak berjalan-jalan, dan tiba saatnya. Di tengah kesibukan mahasiswa semester 9 yang sibuk mengerjakan naskah pendadaran, laporan Kerja Praktek, dan kuliah-kuliah ngulang, berjalan jauh dari kota dan menuju tempat-tempat indah di alam bisa membersihkan kejenuhan.
Ada dua acara yang kemudian membuat saya kembali berjalan-jalan. Janji sepulang Kerja Praktek ngajak Ajeng ke Pantai Pok Tunggal dan acara BeachCamp Mapateka, pengenalan Mapateka untuk calon anggota baru di Pantai Jungwok, semuanya di GunungKidul. Dua pantai dalam dua minggu.
Pantai Pok Tunggal, 12 September 2014
Pantai Pok Tunggal tujuannya.
Perjalanan yang diwarnai perasaan senang-sedih-senang lagi.
Berangkat pukul setengah 3 sore dari Yogyakarta, menuju arah jalan Wonosari, melewati pegunungan, Bukit Bintang, lalu tiba di kota Wonosari. Ini jalan-jalan jauh kedua, bersama Ajeng, setelah sebelumnya ke Nglanggeran. Jalan yang lumayan macet karena akhir pekan selesai ketika melewati kota Wonosari. Beberapa kali kami harus tanya warga arah ke Pok Tunggal (karena kami juga tidak ada yang tau tempatnya), karena penunjuk jalan yang ada tidak ada yang menuliskan arah pantai Pok Tunggal. Jalan yang harus dipilih dari papan penunjuk jalan adalah ke arah Pantai Drini.
Berkejar waktu dengan waktu sunset, akhirnya kami tiba tepat waktunya, matahari mulai tengggelam. Jam 5.15.
Pantai Pok Tunggal sudah mulai sepi, hanya beberapa rombongan yang juga datang tapi bermaksud untuk beachcamp disitu dengan mendirikan tenda. Beberapa orang masih bermain air laut.
Di Pantai mulai banyak villa-villa penginapan dan warung-warung, tapi kami hanya berencana untuk bermain sebentar, foto-foto, lalu pulang ketika hari mulai gelap.
![]() |
| Beberapa orang masih terlihat bermain di sekitar pantai |
| Sampai cahaya mulai berubah kemerahan |
![]() |
| Beberpa villa penginapan |
| Lalu matahari pun mulai tenggelam |
![]() |
| Aslinya lebih banyak foto selfie seperti ini daripada foto pemandangan |
Menjelang pukul 6 sore, kami mau pulang, Nah, terjadilah insiden itu..
Baru beberapa meter Beranjak dari tempat saya duduk, saya ingat kalau tadi kunci motornya terjatuh di tempat kami duduk-duduk, tapi tidak segera saya ambil karena pikir saya, pasti ntar klo mau pulang juga keambil, kunci itu tadinya tepat ada di dekat tempat saya duduk.
Ternyata cahaya yang sudah sangat redup menghalangi penglihatan saya untuk mencari kunci itu, tidak ketemu.
Saya mencarinya di tempat kira-kira tadi kami duduk, karena baru saja beberapa meter kami beranjak, tidak juga ketemu. Kepanikan mulai melanda.
Pantai di Gunung Kidul berada di wilayah terpencil, melewati hutan, termasuk pantai Pok Tunggal ini. Tidak mungkin mencari tukang duplikat kunci disini.
Saya berusaha tetap terlihat tenang, walaupun sebenarnya di dalam hati bergejolak, panik. Sungguh. Tapi saya tidak mau membuat Ajeng bertambah panik dan sedih. Rasa senang yang tadi terlihat sudah hilang sama sekali berganti panik dan khawatir.
Kami tak mungkin menginap disitu. Apalagi keesokan harinya Ajeng harus pulang ke Solo, dijemput oleh kakaknya. Poin minus buat saya apabila tidak bisa memulangkan adiknya besok.
Saya mencari mungkin terselip di tas. Tak ada juga. Saya pun meminjam lampu emergency dari pemilik warung. Mencari dan terus mencari, sambil terus berdoa, keadaan yang sangat buruk. Hari bertambah gelap. Semakin gelap.
Karena sudah masuk waktu maghrib saya pun solat dulu di musola yang berada di warung, sambil terus berdoa, berjanji akan memberikan sesuatu untuk mushola tempat saya solat apabila kunci itu ketemu. Kemudian saya melanjutkan pencarian, bergantian Ajeng yang solat, saya terus mencari dengan lampu emergency saya angkat ke atas, dan pandangan terus saya arahkan ke pasir-pasir tempat kami kira-kira duduk tadi. Seperti mencari jarum di tumpukan jerami. Tapi.. Doa saya pun terkabul.
Di antara timbunan pasir pantai terlihat pucuk kecil kunci motor, dan saya pun bukan main girangnya, mengambilnya, sambil berlari ke arah warung. Alhamdulillah, kami bisa pulang, raut muka suram berganti senang kembali. Ow, dan untuk memenuhi janji saya, saya menitipkan sesuatu untuk musola tempat kami solat pada pemilik warung. Dan kami pun pulang dengan lega, gembira. Hari sudah sangat gelap. Pukul 19.00. Kami kembali ke Jogja dengan kurang suatu apa pun.
Rangkuman perjalanan ini adalah. Senang-Sedih-Senang lagi
Minggu depan saya akan ke pantai lagi untuk beach camp.
Note : Foto-foto juga dimuat di instagram :













0 komentar:
Posting Komentar