Pages

Selasa, 03 Juni 2014

Weekend di Gunung Api Purba Nglanggeran

bukan kemana gunung yang akan kita daki, tetapi dengan siapa kita pergi mendaki kesana
Weekend tanggal 24 Mei 2014.

Seperti awalnya hanya terdengar wacana ketika di suatu obrolan, Ajeng bersedia naik gunung, ke Nglanggeran. Bukan karena apa-apa, tapi sepanjang saya mengenalnya, Ajeng bukan seseorang yang seneng ama kegiatan yang bikin badan capek, kayak olahraga contohnya. Dan sangat menyenangkan waktu mendengar dia mau mencoba naik gunung, dimulai dari Nglanggeran.


Gunung api purba Nglanggeran, kata artikel yang udah pernah saya baca, memang dulunya gunung berapi aktif jutaan taun lalu, sekarang sih udah ga aktif lagi. Bentuknya dari bawah terlihat seperti susunan batu-batu menjulang diselimuti hijauan rumput atau pepohonan. Puncak tertingginya sekitar 700 mdpl, dengan trek berupa tanah dan celah sempit bebatuan. Cocok buat yang mau latian atau nyoba naik gunung, dan buat mendakinya ga perlu persiapan banyak, cuman minum benernya dah cukup, karena buat naik ke puncak paling butuh waktu sekitar 1-1,5 jam dengan jalan santai.

Kita janjian buat berangkat jam1 siang. Setibanya di depan kosan Ajeng, seperti biasa, Ajeng keluar dengan senyum-senyum, dan wajah yang sudah dandan, memakai bedak, wangi. Cantik. Tapi... Ini kan mau naik gunung ya? Ya gapapa, saya sih seneng-seneng aja.
Yang membedakan dari Ajeng adalah, bajunya adalah baju santai dengan celana batik longgar. Dan itu pun masih diselingi pertanyaan, apa bajunya sudah cocok? apa sebaiknya aku pake jeans aja? Gembel banget ya?
Dan jawaban saya pun selalu, nggak kok, bagus, bagusan pake itu.. Dan kemudian pertanyaan sama berlanjut, dan jawaban saya pun tetap seperti itu. hehehe.
Bawa bekal buat naik Nglanggeran juga ga perlu banyak-banyak. Saya cuman bawa satu botol air mineral 1,5 liter, satu botol kecil pocari sweat, coki-coki, ama coklat cadbury yang rencananya, bakal dimakan ntar pas dah nyampe puncak.
Berangkat dari Jogja ke arah Wonosari, udah banyak plang jalan yang menunjukkan arah ke Nglanggeran nantinya. Sampai di lokasi, nanti ada terlihat seperti sebuah joglo dan tempat parkir motor. Dari tempat parkir itu kita akan membayar retribusi parkir dan masuk naik ke atas Nglanggeran sebesar Rp 8000,00.
Joglo dan Tempat parkir ke Nglanggeran
Image Source : google


Nah, kemudian pendakian ke puncak Nglanggeran bisa dimulai.
Ajeng dan saya mulai naik habis ashar, jam 3an lah. Dengan harapan bisa turun lagi jam5an, biar ga gelap waktu turun. Lha kok langsung naik? Ga pemanasan dulu emangnya? Kan pertama kalinya Ajeng naik gunung? Dan jawabannya adalah, udah kok tadi, sebelum mandi, aku dah pemanasan. Dan setau saya dia tadi mandi jam 11 pagi, apa ngaruh? Oke gapapa.
Trek awalnya kebanyakan sudah tersedia dengan tangga-tangga, lalu sesekali tuh ada gardu untuk pos untuk beristirahat, nampaknya tempat ini sudah mulai diberdayakan oleh pemerintah daerah setempat, sehingga tampak banyak fasilitas yang dibenahi, seperti papan petunjuk jalan menuju ke puncak, gardu istirahat, pegangan tangan dari besi, dan tali untuk trek yang agak licin. Mungkin karena itu, banyak sekali yang datang untuk mendaki di waktu libur, karena relatif mudah dan cepat. Sering terlihat pengunjung yang datang mendaki dengan celana jeans ketat, sepatu karet, legging, atau yang berdandan layaknya mau ke mall pun ada lho, dikira di atas ada supermarket kali ya, ya pokoknya pakaian yang lazimnya tidak digunakan untuk mendaki gunung, ya mungkin karena relatif mudah dan cepat tadi. Walaupun begitu sebenernya, ini tetep aja gunung lho, yang treknya juga kadang diselingi tanah licin kalo ujan, hutan-hutan, dan menanjak, untuk safety-nya ya emang bagusnya pake celana longgar, ringan, dan alas kaki minimal sandal trek-lah buat safety. Nyaman juga dipakenya.

Yang mungkin unik dari Nglanggeran adalah, beberapa jalannya mesti melewati celah-celah batuan sempit, yang mungkin hanya cukup untuk satu orang lewat, sehingga harus gantian buat yang mau turun ataupun mau naik.
Beberapa jalan berupa celah sempit di antara bebatuan
Image Source : google


Perjalanan naik, alhamdulillah, lancar-lancar aja. hanya beberapa kali istirahat diam, dan minum dikit, ama foto-foto, and this is my first time hiking with my girl, and i enjoyed it.. we enjoyed it. hehe.


Start to hiking

Di Nglanggeran ada dua titik puncak, klo puncak utara ama puncak Nglanggeran. Ketinggiannya hampir relatif sama. Puncaknya berupa batuan luas, buat naik dipermudah dengan tangga buatan yang sudah disediakan. Kita nyampe sih sekitar jam setengah 5 kurang
Pemandangan di puncak baguuss, cocok buat melihat sunset, di bawah terlihat bukit-bukit lain yang tertutup hijauan, dan terlihat sebuah telaga bernama Embung dari atas, Embung berjarak 1,5 km dari titik pendakian Nglanggeran. Di bagian utara tetap terlihat Merapi dan Merbabu, yang selama ini selalu seolah menjadi background kota Jogja sebelah utara.
Keren. Rasanya ya masih pengen lama-lama di puncak, tapi waktu sudah menunjukkan pukul 5.15, dah telat 15 menit dari perkiraan awal, dan takutnya waktu turun gelap-gelapan, karena kita ga nyiapin senter juga.
Ajeng di Puncak Nglanggeran

Pemandangan dari Puncak Nglanggeran


Turun gunung, lama-kelamaan, cahaya senja jadi ilang. Tambah lama tambah gelap. Dan, satu persiapan yang saya tidak bawa adalah senter. Walaupun hanya butuh sekitar 40 menitan untuk turun, tapi pukul setengah 6, cahaya matahari sudah hampir hilang. Jalan yang kita lalui tiba-tiba terlihat berbeda, Ajeng juga bolak-balik tanya, ini jalan yang tadi kita lewatin bukan sih? Saya jawab aja, bener kok. Walaupun iya, emang beda sih, tapi tetep, harus tenang, dan tidak membuat orang lain panik. Kami terus turun, hingga memakai cahaya hape saja, tiba-tiba, cahaya kehidupan datang. Di kejauhan terlihat lampu putih terang. Pasti dah hampir sampai.
Lho, tiba-tiba nyampenya di warung, sepanjang jalan naik kan ga nglewatin warung? Saya pun bertanya ke pemilik warung, pak jalan turun kemana ya? Dan ternyata bener, kita turun dikit lagi dah jalan aspal. Alhamdulillah. Ternyata buat turun gunung kita beneran ke jalan yang beda. Jalan dikit, kita dah sampai ke parkiran motor. Habis solat. Pulang deh..
Menyenangkan.
Semoga jadi awal dari banyak cerita jalan-jalan lain bersama Ajeng.

0 komentar:

Posting Komentar