Setelah lewat perjalanan panjang, termasuk lewat jalan-jalan di Dieng yang mesti pake gigi 1 di motor, nyampe juga di base camp Prau, jam 2an lebih.
Plang basecamp pendakian ke Prau
Habis makan ama sholat, perjalanan dimulai.. Jam 4.15.
Di depan warung makan, siap berangkat
Jalan pendakian ke Prau awalnya ternyata melewati gang-gang sempit dan perumahan warga, arah jalur-nya ditunjukkan lewat panah-panah arah
Bingung tadinya mau cari tempat pemanasan dimana, akirnya nemu tanah lapang buat pemanasan bareng-bareng
Tapi jadi tempat muter mobil juga, jadi terhenti sementara pemanasannya
Lanjut lagi deh
Dari perumahan warga, jalan mulai naik, bertangga-tangga
Febri, Ketty, Maruf, Iqbal, Andhika
Dari jalan bertangga-tangga, ujungnya adalah suatu perkebunan sayur punya warga yang luas, berundak, hingga nanti kami menemui pos jaga masuk gunung Prau. Disini diminta menunjukkan tiket masuk ke Prau, yang tadinya dapat dari pos masuk Dataran Tinggi Dieng. O ya, ada ojeknya lho, pake motor trail. 10000 rupiah, nyampe atas kayaknya.
Langit beranjak senja, tidak lagi ada panas menyengat sepanjang perjalanan. Beruntung lagi adalah, kita dapat melihat sunset di perjalanan. Dengan jelas. karena tidak terhalangi oleh pepohonan hutan, dari sini sudah terlihat kebenaran kata orang kalau indahnya gunung Prau, karena sepanjang perjalanan dapat melihat pemandangan yang keren banget. Ada Gunung SIndoro Sumbing, Dataran Tinggi Dieng, dan perkebunan warga.
Langit senja di perjalanan
Sudah bisa terlihat, bangunan-bangunan di Dieng jadi seperti miniatur
Berbagai gunung di Jawa Tengah mulai bisa terlihat, Sindoro, Sumbing, bahkan Merapi dan Merbabu
Di samping ada perkebunan warga yang luas
Siluet saat senja
Karena terlalu takjub dengan pemandangan pas perjalanan, jadi lama banget foto-fotonya, haha. Dan matahari mulai menghilang. Kebun-kebun sayur mulai menghilang dan udara jadi semakin dingin.
Sudah mulai terlihat bulan
Sudah gelap. Jalurnya mulai susah, naik terus, dan beberapa kali jalan curam dan licin. Kalau bukan karena waktu tempuhnya yang pendek, jalur pendakian di Prau lumayan berat, apalagi untuk yang belum pernah naik gunung. Dan teman-teman, walaupun sudah diingatkan, beberap lupa bawa senter. Ada yang bawa senter juga redup, kayak tempet Ketty yang bawa senter kuning redup, kayak punya tukang di bengkel mobil mau merbaikin mesin. Tapi semua bisa tercover dengan temen-temen yang dah bawa headlamp, dan Suryo yang malah bawa lampu emergency di perjalanan.
Saat istirahat di perjalanan, masih sempet foto-foto dulu
Malam menjelang. Tapi tidak membuat pesona Prau hilang, perjalanan kemudian dihiasi oleh bintang-bintang, kelamaan semakin banyak. " Coba matiin senter bentar deh ", kata seseorang waktu istirahat. Dan.. keren banget. Bintang-bintang yang bertabur, dan membentuk jalur seperti sungai. Dan bintang jatuh yang beberapa kali terlihat.
Pendakian kali ini ternyata cukup ramai, rombongan lain di belakang dan kadang rombngan yang akan turun ke bawah jadi susah buat papasan. Kadang-kadang malah ada rombongan anak-anak yang diawasi satu dua orang dewasa saja.
Pukul setengah 8 malam. Tiba di tempat camp, deket puncak. Sudah ada banyak sekali tenda dan ratusan pendaki. Tempat camp di Prau emang luas, itu jadi salah satu kelebihannya.
Tapi udara disini, dingin banget. Ya di bawah, di Dieng aja dah dingin, apalagi di sini.
Seakan-akan ingin cepet bangun tenda, makan, dan tidur. Beberapa pendaki yang mungkin ga ada persiapan, mungkin karena mengira ini "cuman" Prau, dan ga bawa tenda. Itu salah banget. Pendaki-pendaki macem gini mulai nyari-nyari orang yang tendanya masih kosong buat numpang.
Ada satu lagi yang disesalkan adalah, karena jarak tempuhnya yang sebentar, akhirnya banyak sekali orang-orang tak bertanggung jawab dan tak beretika datang disini, sebagai perusuh alam raya.
Mulai dari teriak-teriak ga jelas, dengan kata-kata kotor, bakar-bakar di deket tenda orang, buang sampah seenaknya, very annoying. Sebagian besar pendaki pasti sangat jengkel dengan mereka. Semoga cepat disadarkan.
Jam12 malam. Suryo membangunkan orang-orang di tenda.
"Guys, mau ikut di luar? Bintang-bintangnya lagi keren banget. Kapan lagi liat kayak gini"
Bintang-bintang lagi maksimalnya bertebaran, dan bintang jatuh bermunculan. Tak ada kamera di rombongan ini yang bisa sempat mengabadikannya, hanya terlihat di mata, dan tersimpan dalam hati yang abadi keindahan seperti itu.
Tidur semua hingga subuh menjelang.
Jam 5.15, semua sudah terbangun dan solat, saat-saat paling ditunggu akan tiba, sunrise.
Seluruh pendaki mulai keluar dari tenda, dan menunggu matahari muncul dari cakrawala. Sangat ramai. Ada ratusan orang mungkin, siap berdiri.
Mulai keliatan matahari muncul
Gunung-gunung di Jawa Tengah juga mulai terlihat
Ramainya para pendaki yang ingin melihat sunrise
Kamera jadul Febri, dipasangi Fish Eye
Foto bareng habis sunrise
Kereeen... Paraaaah sunrise dari atas sini, lebih indah dari foto-foto yang ada, rasa-rasanya ga habis-habis pengen foto, duduk, melihat perlahan sinar matahari muncul. Dan mulai terlihat, Sindoro, Sumbing, Merapi, Merbabu, Lawu..
Dan kemudian disusul momen foto-foto dengan kertas, biar keliatan so sweet. Hehe.
Dari Isyroqi untuk Ajeng Rahmasari
Dari Ihsan untuk Annisa Rofi
Dari Sudib yang nyoba deketin Inas. Eh tapi dia bikin dua tulisan lagi buat dua orang yang berbeda
Tito buat ceweknya
Andhika buat Asih
Agung ama Kiki buat adeknya Agung yang ultah
Salam Mapateka
Dan buat temen-temen 2010 yang lain, salam "Bongkar" dari Ketty,Ami, Gangsar, Iqbal, Suryo, Sudib, Agung, Oqi, Andhika, Febri, Tito, Abang Ilham, Ihsan, Tyo.
Ditunggu lanjutannya,
BalasHapusTerutama jalan jahannamnya :D
waahh, keren ya gunung prau
BalasHapusAnonim : ahahaha, wah ini pasti salah satu dari foto di atas
BalasHapusMas Wisnu : iyo mas, keren dan cepet sampai, hehe