Pages

Sabtu, 07 Juni 2014

Cerita Tentang Prau dan Dieng part 1


"Hamparan Langit Maha Sempurna, Bertahta Bintang-Bintang Angkasa.."Mahadewi-Padi
"ke Prau"
"Kapan?"
"Besok Sabtu, ayok"
"Ama sapa aja?"
"Ini ada aku, Agung, Ma'ruf, ntar banyak kok"

Setelah percakapan di kantin belakang dengan Suryo itu, rencana awal aku yang tadinya mau kembali ke Sumbing untuk bisa ke puncak, jadi ganti ama ke Prau. Gunung Prau yang terdengar dari orang-orang "cuman" gunung pendek, cepet nyampe, tapi panorama yang ada disana mantap, oke, sabi banget laah.
Dan karena kesibukan yang harus berhadapan dengan Tugas Akhir dan 2 minggu lagi UAS, tapi pengen refreshing ke gunung, Prau cocok banget.
Acara yang tadinya cuman mau ngajak segelintir orang saja biar ga repot, tiba-tiba jadi banyak yang pengen ikut, gara-gara aku juga sih, cerita-cerita kalau kita deket-deket ini mau ke Prau, dan akhirnya ada 16 orang yang ikut. Hampir semuanya angkatan 2010, dan yang pengen mencoba naik gunung sebelum lulus kuliah. Dua orang lagi, Kiki, pacarnya Agung, ama Sudib, anak 2011, yang bakalan siap dipakai tenaganya buat bantu bawa tenda, dan yang terpenting, moto-in kita, anak-anak 2010. Tajuk acaranya ganti dari nanjak doank, jadi nanjak massal angkatan 2010 Tekim UGM.

Persiapan dah cukup, daftar barang-barang yang mesti dibawa dah disebar. Malam sebelum keberangkatan, hari Jumatnya, banyak yang nanyain ulang, dari LINE apa sms apa-apa yang mesti dibawa lagi, terutama Febri, yang kayaknya dah mantep mau nyobain untuk pertama kalinya, naik gunung.

Hari Sabtu, 31 Juli 2014.
"Kumpul setengah 7 ya temen-temen, di ruang BSO" itu sms yang aku kirim, tau lah bakalan ngaret, yang akhirnya baru siap semua di BSO buat berangkat jam10an pagi. Ada 12 cowok, 11-nya boncengan naek motor, sisanya 4 cewek, Ami, Febri, Kiki, ama Ketty, naik Honda Brio-nya Febri yang disetirin ama Suryo. Jalannya bakalan jauh, 4 jam lebih, buat nyampe ke Dataran Tinggi Dieng, tempetnya Gunung Prau.
Sebelum berangkat ke Prau, masih pada bersih, dari kiri ke kanan : Ketty, Kiki, Agung, Andhika, aku, Ami, Tito, Iqbal(pake helm), Ihsan, Abang Ilham, Sudib. Yang motoin lupa, yang laen kayaknya lagi ga ke foto



Jam 10an, kita brangkat. Aku semotor ama Gangsar, bawa dua carrier besar yang termasuk isinya logistik ama tenda. Brio Febri takutnya ga kuat nahan kalo ini semua dimasukin kesitu.
Jalan..jalan.. Alhamdulillah lancar.
Tiba-tiba ban motorku yang bermasalah. Terdengar bunyi tok..tok..tok.. Makin lama makin keras, kayak suara traktor. Ban motornya benjol. Harus tetep jalan, karena aku juga ga punya uang buat ganti ban luar sekarang. Tapi suara tok..tok..tok.. di motor akan mengganggu sepanjang perjalanan, dan diliatin orang-orang. Apa boleh buat.
Sampai di pertigaan Hotel Artos Magelang, rombongan ga sengaja kepecah, ada yang lurus, ada yang ke kiri. Dan memutuskan untuk tetep jalan, biar nanti ketemu di Dieng.
Setelah lewat perjalanan panjang, termasuk lewat jalan-jalan di Dieng yang mesti pake gigi 1 di motor, nyampe juga di base camp Prau, jam 2an lebih.
 Plang basecamp pendakian ke Prau

Habis makan ama sholat, perjalanan dimulai.. Jam 4.15.





 Di depan warung makan, siap berangkat
 Jalan pendakian ke Prau awalnya ternyata melewati gang-gang sempit dan perumahan warga, arah jalur-nya ditunjukkan lewat panah-panah arah
 Bingung tadinya mau cari tempat pemanasan dimana, akirnya nemu tanah lapang buat pemanasan bareng-bareng
 Tapi jadi tempat muter mobil juga, jadi terhenti sementara pemanasannya


 Lanjut lagi deh
 Dari perumahan warga, jalan mulai naik, bertangga-tangga

Febri, Ketty, Maruf, Iqbal, Andhika


Dari jalan bertangga-tangga, ujungnya adalah suatu perkebunan sayur punya warga yang luas, berundak, hingga nanti kami menemui pos jaga masuk gunung Prau. Disini diminta menunjukkan tiket masuk ke Prau, yang tadinya dapat dari pos masuk Dataran Tinggi Dieng. O ya, ada ojeknya lho, pake motor trail. 10000 rupiah, nyampe atas kayaknya.
Langit beranjak senja, tidak lagi ada panas menyengat sepanjang perjalanan. Beruntung lagi adalah, kita dapat melihat sunset di perjalanan. Dengan jelas. karena tidak terhalangi oleh pepohonan hutan, dari sini sudah terlihat kebenaran kata orang kalau indahnya gunung Prau, karena sepanjang perjalanan dapat melihat pemandangan yang keren banget. Ada Gunung SIndoro Sumbing, Dataran Tinggi Dieng, dan perkebunan warga.

 Langit senja di perjalanan
 Sudah bisa terlihat, bangunan-bangunan di Dieng jadi seperti miniatur
 Berbagai gunung di Jawa Tengah mulai bisa terlihat, Sindoro, Sumbing, bahkan Merapi dan Merbabu
 Di samping ada perkebunan warga yang luas



 Siluet saat senja








Karena terlalu takjub dengan pemandangan pas perjalanan, jadi lama banget foto-fotonya, haha. Dan matahari mulai menghilang. Kebun-kebun sayur mulai menghilang dan udara jadi semakin dingin.



Sudah mulai terlihat bulan

Sudah gelap. Jalurnya mulai susah, naik terus, dan beberapa kali jalan curam dan licin. Kalau bukan karena waktu tempuhnya yang pendek, jalur pendakian di Prau lumayan berat, apalagi untuk yang belum pernah naik gunung. Dan teman-teman, walaupun sudah diingatkan, beberap lupa bawa senter. Ada yang bawa senter juga redup, kayak tempet Ketty yang bawa senter kuning redup, kayak punya tukang di bengkel mobil mau merbaikin mesin. Tapi semua bisa tercover dengan temen-temen yang dah bawa headlamp, dan Suryo yang malah bawa lampu emergency di perjalanan.


Saat istirahat di perjalanan, masih sempet foto-foto dulu

Malam menjelang. Tapi tidak membuat pesona Prau hilang, perjalanan kemudian dihiasi oleh bintang-bintang, kelamaan semakin banyak. " Coba matiin senter bentar deh ", kata seseorang waktu istirahat. Dan.. keren banget. Bintang-bintang yang bertabur, dan membentuk jalur seperti sungai. Dan bintang jatuh yang beberapa kali terlihat. 
Pendakian kali ini ternyata cukup ramai, rombongan lain di belakang dan kadang rombngan yang akan turun ke bawah jadi susah buat papasan. Kadang-kadang malah ada rombongan anak-anak yang diawasi satu dua orang dewasa saja.
Pukul setengah 8 malam. Tiba di tempat camp, deket puncak. Sudah ada banyak sekali tenda dan ratusan pendaki. Tempat camp di Prau emang luas, itu jadi salah satu kelebihannya.
Tapi udara disini, dingin banget. Ya di bawah, di Dieng aja dah dingin, apalagi di sini.
Seakan-akan ingin cepet bangun tenda, makan, dan tidur. Beberapa pendaki yang mungkin ga ada persiapan, mungkin karena mengira ini "cuman" Prau, dan ga bawa tenda. Itu salah banget. Pendaki-pendaki macem gini mulai nyari-nyari orang yang tendanya masih kosong buat numpang.

Ada satu lagi yang disesalkan adalah, karena jarak tempuhnya yang sebentar, akhirnya banyak sekali orang-orang tak bertanggung jawab dan tak beretika datang disini, sebagai perusuh alam raya.
Mulai dari teriak-teriak ga jelas, dengan kata-kata kotor, bakar-bakar di deket tenda orang, buang sampah seenaknya, very annoying. Sebagian besar pendaki pasti sangat jengkel dengan mereka. Semoga cepat disadarkan.

Jam12 malam. Suryo membangunkan orang-orang di tenda.
"Guys, mau ikut di luar? Bintang-bintangnya lagi keren banget. Kapan lagi liat kayak gini"

Bintang-bintang lagi maksimalnya bertebaran, dan bintang jatuh bermunculan. Tak ada kamera di rombongan ini yang bisa sempat mengabadikannya, hanya terlihat di mata, dan tersimpan dalam hati yang abadi keindahan seperti itu.

Tidur semua hingga subuh menjelang.

Jam 5.15, semua sudah terbangun dan solat, saat-saat paling ditunggu akan tiba, sunrise.

Seluruh pendaki mulai keluar dari tenda, dan menunggu matahari muncul dari cakrawala. Sangat ramai. Ada ratusan orang mungkin, siap berdiri.

 Mulai keliatan matahari muncul
 Gunung-gunung di Jawa Tengah juga mulai terlihat




 Ramainya para pendaki yang ingin melihat sunrise


 Kamera jadul Febri, dipasangi Fish Eye
Foto bareng habis sunrise

Kereeen... Paraaaah sunrise dari atas sini, lebih indah dari foto-foto yang ada, rasa-rasanya ga habis-habis pengen foto, duduk, melihat perlahan sinar matahari muncul. Dan mulai terlihat, Sindoro, Sumbing, Merapi, Merbabu, Lawu..

Dan kemudian disusul momen foto-foto dengan kertas, biar keliatan so sweet. Hehe. 

Dari Isyroqi untuk Ajeng Rahmasari
 Dari Ihsan untuk Annisa Rofi
 Dari Sudib yang nyoba deketin Inas. Eh tapi dia bikin dua tulisan lagi buat dua orang yang berbeda
 Tito buat ceweknya
Andhika buat Asih
Agung ama Kiki buat adeknya Agung yang ultah
Salam Mapateka
Dan buat temen-temen 2010 yang lain, salam "Bongkar" dari Ketty,Ami, Gangsar, Iqbal, Suryo, Sudib, Agung, Oqi, Andhika, Febri, Tito, Abang Ilham, Ihsan, Tyo. 

3 komentar:

  1. Ditunggu lanjutannya,
    Terutama jalan jahannamnya :D

    BalasHapus
  2. waahh, keren ya gunung prau

    BalasHapus
  3. Anonim : ahahaha, wah ini pasti salah satu dari foto di atas

    Mas Wisnu : iyo mas, keren dan cepet sampai, hehe

    BalasHapus