Pages

Sabtu, 08 Februari 2014

Merapi : Si Aktif dengan Pemandangan Mempesona


"A Journey Of A Thousand Miles Begins With A Single Step - Lao Tzu"
Bulan-bulan Januari-Februari bukanlah cuaca yang cocok untuk mendaki gunung. Dua kali saya melakukan pendakian di bulan Januari, dua kali pula gagal ke puncak dikarenakan hantaman badai. Yang terbaru ketika Januari ini ke gunung Sumbing.
Menikmati gunung mungkin sebaiknya hanya dengan melihatnya saja, tanpa harus mendakinya di bulan-bulan ini. Salah satu yang bisa dinikmati pemandangannya di kota Yogyakarta adalah Merapi yang sering sekali terlihat jelas, tanpa kabut dan awan, ketika cuaca panas sebelum turun hujan. Dan saya sering melihat ke arahnya lalu bersyukur pernah mendakinya taun lalu, pendakian dengan pemandangan eksotis, dan memang Merapi itu beda dari gunung-gunung lain. Di samping pemandangan dan tipe tanjakannya, Merapi juga salah satu gunung teraktif di Indonesia, atau mungkin dunia ya? Masih jelas diingatan ketika erupsi dahsyat tahun 2010 yang meluluh lantakkan beberapa desa di sekitarnya, dan membuat kota Yogyakarta di selimuti abu tebal. Saya melihat lagi foto-fotonya, dan mengingat-ingat kembali pendakian Merapi taun lalu.

17 Mei 2013

Praktikum Khusus. Atau disingkat Praksus. Adalah salah satu puncak kesibukan, kepenatan, dan stress bagi mahasiswa tingkat 3 di jurusan Teknik Kimia UGM. Praksus adalah kita dibagi dalam kelompok-kelompok lalu diberi suatu judul praktikum, lalu disuruh untuk melakukan praktikum ini dengan tanpa diberitahu langkah-langkahnya seperti apa, harus bagaimana, dimana, dengan siapa, semalam berbuat apa... Lho? Kok malah jadi kayak lagu ya? Yolanda... Dengan deadline dan harus ada tanda tangan ACC dari pembimbing dan kepala Lab Operasi Teknik Kimia. Praksus adalah akhir dari Praktikum OTK yang bikin mabok sibuknya.
Mungkin karena jenuh, stres, capek, bosen, dan nekat, sekelompok anak ingin refreshing sebentar, dengan mendaki gunung, tapi yang ga terlalu lama juga waktunya. Merapi adalah pilihan tepat.
Saya, Baceng, Gangsar, Tyo, Fajar, Azi, Datil, Ma'ruf dan Angga. Hanya Angga yang ga terlalu sibuk, dia kan anak 2011.

Dari kiri ke kanan : Datil, Baceng, Azi, Fajar, Gangsar, Saya, Tyo, dan Angga di depan basecamp Selo


 Jumat, 17 Mei 2013. Pagi hari kami berangkat dari basecamp BSO Teknik Kimia menuju basecamp pendakian Merapi melalui jalur Selo. Sempat berhenti di daerah Salam untuk Jumatan, kami tiba di basecamp Selo pukul 15.00. Kemudian nyantai dulu, makan2 dulu, ngopi dulu, dan memang agak hujan waktu kami tiba di basecamp, sehingga nunggu dulu buat naik. Kami bertemu dengan rombongan pendaki dari Malaysia yang baru saja turun. Mereka berekspedisi mendaki Merapi dan Merbabu. Sempat ngobrol-ngobrol, dan bertanya bagaimana kalau gunung di Malaysia, mereka bilang tidak ada, tidak yang seperti di Indonesia ini. Amat istimewa lah kita hidup di Indonesia, yang negara-negara tetangganya pun mengagumi keindahannya.
Di dalam BaseCamp Selo

Pukul 17.15, kami mulai meninggalkan basecamp Selo. Jalanan awal dari basecamp beraspal, naik banget tanjakannya, dah lumayan buat semisal yang belum pernah naik gunung mungkin dah lumayan pegel, padahal ini belum masuk hutan. Dari kami semua, hanya Ma'ruf yang pernah mendaki gunung Merapi, itu pun ketika SMA, sebelum erupsi dahsyat taun 2010.
Setelah jalan beraspal, kami melewati jalur dengan pemandangan kebun sayur-sayuran di kanan kirinya. Tetap dengan jalannya yang terus menanjak, hampir tidak menyisakan tempat landai pun.

Di belakang ada kebun sayur, terlihat pula Merbabu beserta pemandangan lampu-lampu di jalan

Lambat laun kebun-kebun mulai berkurang, berganti menjadi hutan, dengan jalan yang sempit, dan cukup licin karena hujan, dan tentu saja, masih dengan tanjakan yang terus-menerus, membuat kaki cepet pegel.
Jalan sempit, becek, dan menanjak terus

Kami pernah mendengar, Merapi tu tanjakannya baru nanti deket-deket puncak, habis Pasar Bubrah. Lha ini awal-awal udah nanjak terus begini, bikin kekar otot kaki, apa gini ini yang dimaksud ya, tapi ini juga ga deket ama puncak. Tapi keuntungan dari trek yang terus naik ini kita bisa melihat ke bawah, secara langsung, tanpa tertutup apa pun, pemandangan kelap-kelip lampu jalan dan pemukiman warga seperti bintang-bintang yang bertebaran, gunung merbabu juga terus terlihat dengan jelas. Eksotis. Langit senja pun segera berganti gelap malam. Kadang hujan menerpa dan udara jadi semakin dingin, tanda kami sudah semakin tinggi mendaki. Hampir tidak ada tempat untuk mendirikan camp, hingga di dekat wilayah Pasar Bubrah.
Pukul setengah 10 malam, kami tiba di suatu tanah datar sempit, di dekat Pasar Bubrah, dan disini lah kami mendirikan camp untuk besok pagi-pagi melakukan summit strike.

Tanah datar tempat mendirikan tenda

18 Mei 2013

Pagi hari setelah solat subuh kami bersiap melakukan summit strike. Cuaca sangat cerah, mendukung sekali untuk ke puncak. Segera kami bersiap, dengan perkiraan kami bisa makan dan masak di puncak, kami membawa satu carier berisi bahan makanan, kompor dan peralatan masak, yang cukup berat. Berjalan sebentar melewati beberapa bukit kecil, kami tiba di Pasar Bubrah.
Perjalanan ke Pasar Bubrah

Lautan Awan terlihat di Pasar Bubrah, tampak Gunung Sindoro dan Sumbing di kejauhan
Perjalanan naik dari Pasar Bubrah


Tugu Monumen Peringatan untuk Pendaki yang meninggal, yang berasal dari SMA N 4 Yogyakarta

Pasar Bubrah adalah suatu daerah di Merapi dengan dataran luas, terbuaka berbatu dan berpasir, di sini tidak ada lagi tanaman hijau, atau tanpa ada vegetasi. Dinamakan Pasar Bubrah, karena konon di tempat ini di waktu-waktu tertentu di malam hari merupakan pasar bagi makhluk halus dengan berbagai cerita mistis lainnya yang Alhamdulillah kami tidak menemui itu di sini. Di Pasar Bubrah saya menemui sebuah monumen in memoriam untuk pendaki yang meninggal disana, dan saya terkejut ternyata monumen itu diperuntukkan untuk pendaki dari SMA N 4 Yogyakarta yang meninggal di tahun 1977. SMA 4 adalah sekolah SMA saya, jadi yang ada di monumen itu pun adalah nama kakak kelas jauh saya. Lanjut perjalanan.. Setelah Pasar Bubrah ini lah, pendakian ke puncak dimulai.
Daaan... Benar saja yang dikatan orang. Jadi ini yang dimaksud, menanjak. Dengan kemiringan yang curam, tanjakan awal selama ini tidak ada apa-apanya. Kita bisa seperti spiderman kadang-kadang, agak merangkak untuk mendaki ke puncak. Yang harus diperhatikan pula adalah langkah, karena jalan menuju puncak banyak bertebaran batu-batu besar yang mudah jatuh bila diinjak, sehingga sangat berbahaya.
Carier berisi bahan dan peralatan makan di bawa bergantian antara saya, angga dan baceng.
Nafas mulai tersengal dan berat, baru kali ini saya mendaki begitu terasa berat langkah dan nafasnya. Bau belerang pun mulai tercium. Tapi pemandangan menjadi semakin eksotis, langit mulai cerah, matahari mulai muncul, dan lautan awan mulai terlihat jelas.

Sunrise terlihat di perjalanan menuju puncak

Jalan berpasir dan berbatu, menuju puncak Merapi

Perjalanan berat menuju puncak merapi terbayar dengan keindahan puncaknya... Pukul 7 pagi kami tiba di puncak Merapi. Puncaknya sangat kecil yang langsung berbatasan dengan jurang ke arah kawahnya. Ternyata erupsi 2010 membuat puncak Merapi, yang dulu dinamakan puncak garuda, menjadi terkikis, hanya tinggal bagian kecil. Di tempat ini, jangankan mau masak, mau berdiri aja rasanya serem juga, apalagi ada terpaan angin yang membuat kita merinding untuk tetap berdiri dan terserang penyakit 'tager' (takut gerak). Panorama di puncak tak ada duanya dengan pemandangan lautan awan, gunung merbabu dengan beberapa gunung lain di Jawa Tengah, serta kota-kota di bawah Merapi seperti Yogyakarta dan sekitarnya. Tetapi harapan untuk masak di puncak jelas pupus, kami hanya makan mi goreng tanpa di rebus. Itu rasanya dah enak banget karena dah kelaparan.
Merah Putih dan Mapateka berkibar di Merapi


Mau gerak aja serem, mungkin itu yang ada di pikiran Azi




Puas dengan menikmati pemandangan di puncak dan foto-foto, kami segera turun, karena memang katanya ga boleh terlalu siang berada di puncak, gas beracun dari merapi bisa keluar dari kawah. Pukul 8 kami sudah turun dari puncak. Perjalanan turun cukup menyenangkan karena trek pasir membuat kami serasa bermain perosotan, cepat sekali kami sudah ada di Pasar Bubrah lagi.
Kami bertemu beberapa rombongan pendaki lain, banyak juga pendaki-pendaki bule dari berbagai negara. Wah bangga sekali rasanya, pesona merapi ternyata cukup terkenal bagi pendaki-pendaki di luar negeri.
Turun dari Puncak

Serah terima jabatan ketua Mapa, secara tidak langsung

Berfoto dengan bule-bule di Pasar Bubrah



Sesampainya di bawah kami akhirnya bisa memasak makanan. Tidak lama kemudian puncak merapi mengeluarkan asap dari kawahnya. Pemandangan yang luar biasa, yang sepertinya selama ini hanya bisa dilihat di tivi2. Mulai dari sini Angga pulang duluan, sendirian, karena ada acara di Yogyakarta. Sedangkan kami kembali ke tenda pukul 11.00. Tidak lama hujan turun, kami pun menunda turun hingga pukul 15.30.
Kami tiba di bawah pukul 19.00. Di basecamp kami mendapat kabar bahwa asap putih di Merapi terlihat di kota Jogja, dan menjadi berita tersendiri. Sungguh perjalanan yang luar biasa.
Saat Merapi terlihat jelas di kota, ada kesenangan tersendiri saat melihat puncaknya, bahwa saya pernah berada di atas sana. Berdiri, mungkin melihat ke arah saya melihatnya sekarang.
Sampai jumpa Merapi.
Lautan awan seperti bulu

Siap-siap bongkar tenda

Nyampe bawah dah gelap, muka dah pada ga jelas

Awan putih keluar dari Puncak Merapi


Masak-masak 


0 komentar:

Posting Komentar