Pages

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Senin, 27 Oktober 2014

Eksplor Pantai GunungKidul ( Jungwok dan Pok Tunggal) #part1

"We live in a beautiful world.. Yeah we do, Yeah we do..." (Don't Panic-Coldplay)

 Sekian lama tak berjumpa dengan alam..
Lama tak berjalan-jalan, dan tiba saatnya. Di tengah kesibukan mahasiswa semester 9 yang sibuk mengerjakan naskah pendadaran, laporan Kerja Praktek, dan kuliah-kuliah ngulang, berjalan jauh dari kota dan menuju tempat-tempat indah di alam bisa membersihkan kejenuhan.
Ada dua acara yang kemudian membuat saya kembali berjalan-jalan. Janji sepulang Kerja Praktek ngajak Ajeng ke Pantai Pok Tunggal dan acara BeachCamp Mapateka, pengenalan Mapateka untuk calon anggota baru di Pantai Jungwok, semuanya di GunungKidul. Dua pantai dalam dua minggu.

Pantai Pok Tunggal, 12 September 2014
Pantai Pok Tunggal tujuannya.
Perjalanan yang diwarnai perasaan senang-sedih-senang lagi.

Berangkat pukul setengah 3 sore dari Yogyakarta, menuju arah jalan Wonosari, melewati pegunungan, Bukit Bintang, lalu tiba di kota Wonosari. Ini jalan-jalan jauh kedua, bersama Ajeng, setelah sebelumnya ke Nglanggeran. Jalan yang lumayan macet karena akhir pekan selesai ketika melewati kota Wonosari. Beberapa kali kami harus tanya warga arah ke Pok Tunggal (karena kami juga tidak ada yang tau tempatnya), karena penunjuk jalan yang ada tidak ada yang menuliskan arah pantai Pok Tunggal. Jalan yang harus dipilih dari papan penunjuk jalan adalah ke arah Pantai Drini.
Berkejar waktu dengan waktu sunset, akhirnya kami tiba tepat waktunya, matahari mulai tengggelam. Jam 5.15.
Pantai Pok Tunggal sudah mulai sepi, hanya beberapa rombongan yang juga datang tapi bermaksud untuk beachcamp disitu dengan mendirikan tenda. Beberapa orang masih bermain air laut.
Di Pantai mulai banyak villa-villa penginapan dan warung-warung, tapi kami hanya berencana untuk bermain sebentar, foto-foto, lalu pulang ketika hari mulai gelap.

Beberapa orang masih terlihat bermain di sekitar pantai

Sampai cahaya mulai berubah kemerahan

Beberpa villa penginapan
Lalu matahari pun mulai tenggelam
Aslinya lebih banyak foto selfie seperti ini daripada foto pemandangan
Hanya duduk-duduk, bercerita di pinggir pantai, hingga lambat laun matahari mulai tenggelam. Menyenangkan. Dan terasa cepat.
Menjelang pukul 6 sore, kami mau pulang, Nah, terjadilah insiden itu..
Baru beberapa meter Beranjak dari tempat saya duduk, saya ingat kalau tadi kunci motornya terjatuh di tempat kami duduk-duduk, tapi tidak segera saya ambil karena pikir saya, pasti ntar klo mau pulang juga keambil, kunci itu tadinya tepat ada di dekat tempat saya duduk.
Ternyata cahaya yang sudah sangat redup menghalangi penglihatan saya untuk mencari kunci itu, tidak ketemu.
Saya mencarinya di tempat kira-kira tadi kami duduk, karena baru saja beberapa meter kami beranjak, tidak juga ketemu. Kepanikan mulai melanda.
Pantai di Gunung Kidul berada di wilayah terpencil, melewati hutan, termasuk pantai Pok Tunggal ini. Tidak mungkin mencari tukang duplikat kunci disini.
Saya berusaha tetap terlihat tenang, walaupun sebenarnya di dalam hati bergejolak, panik. Sungguh. Tapi saya tidak mau membuat Ajeng bertambah panik dan sedih. Rasa senang yang tadi terlihat sudah hilang sama sekali berganti panik dan khawatir.
Kami tak mungkin menginap disitu. Apalagi keesokan harinya Ajeng harus pulang ke Solo, dijemput oleh kakaknya. Poin minus buat saya apabila tidak bisa memulangkan adiknya besok.
Saya mencari mungkin terselip di tas. Tak ada juga. Saya pun meminjam lampu emergency dari pemilik warung. Mencari dan terus mencari, sambil terus berdoa, keadaan yang sangat buruk. Hari bertambah gelap. Semakin gelap.
Karena sudah masuk waktu maghrib saya pun solat dulu di musola yang berada di warung, sambil terus berdoa, berjanji akan memberikan sesuatu untuk mushola tempat saya solat apabila kunci itu ketemu. Kemudian saya melanjutkan pencarian, bergantian Ajeng yang solat, saya terus mencari dengan lampu emergency saya angkat ke atas, dan pandangan terus saya arahkan ke pasir-pasir tempat kami kira-kira duduk tadi. Seperti mencari jarum di tumpukan jerami. Tapi.. Doa saya pun terkabul.
Di antara timbunan pasir pantai terlihat pucuk kecil kunci motor, dan saya pun bukan main girangnya, mengambilnya, sambil berlari ke arah warung. Alhamdulillah, kami bisa pulang, raut muka suram berganti senang kembali. Ow, dan untuk memenuhi janji saya, saya menitipkan sesuatu untuk musola tempat kami solat pada pemilik warung. Dan kami pun pulang dengan lega, gembira. Hari sudah sangat gelap. Pukul 19.00. Kami kembali ke Jogja dengan kurang suatu apa pun.
Rangkuman perjalanan ini adalah. Senang-Sedih-Senang lagi
Minggu depan saya akan ke pantai lagi untuk beach camp.

Note : Foto-foto juga dimuat di instagram : @isyroqiakbar

Sabtu, 23 Agustus 2014

Story Near Barito (Kerja Praktek di PT Adaro Indonesia) #TheArrival

"Experience is best teacher"



Dari kemarin2 posting2annya tentang gunung semua ya. Sebenarnya ada banyak cerita yang ingin diceritakan, baik kota yang lain, pantai yang lain, alam yang lain... Bukan alam goib tapi, blog ini tidak berbicara tentang hal-hal seperti itu.
Dan sekarang blog ini bercerita tentang pengalaman yang lain, saat bekerja praktek di PT. Adaro Indonesia, tepatnya di Kelanis Site, Kalimantan Tengah. PT. Adaro Indonesia bergerak di bidang tambang batubara, satu bidang yang "sedikit" melenceng dari bidang Teknik Kimia sebenarnya. Tapi.. Banyak sekali pelajaran yang saya dapat, pengalaman, bahkan sedikit jalan-jalan juga sih, dan pengetahuan baru juga di daerah yang berbeda, dengan budaya yang berbeda. Mirip ketika KKN (Kuliah Kerja Nyata) dulu di Lombok. Hmm, saking banyaknya, saya pun bingung mau bercerita tentang apa dulu...

****

H+2 Idul Fitri 2014, bandara Syamsuddin Noor, Banjar Baru, Kalimantan Selatan.
Akhirnyaa, tanah baruu.. Tempat baru...
Sebelum sampai di Kalimantan saya sudah searching2 gitu di google, apa aja sih yang ada di Kalimantan ini, terutama Banjarmasin ( saya tidak tahu awalnya kalo Banjarmasin jauh banget dari Kelanis), dan.. Kebetulan, majalah dari maskapai citilink yang saya bawa bercerita tentang Banjarmasin, Kota Seribu Sungai. Mulai dari Pasar Terapung, Jembatan Barito, Martapura, dan tempat2 lain, yang rasanya dah pengen jepret2 kamera di tempat2 tadi.

Pesawat pukul 1 WITA tiba dari Juanda di Syamsuddin Noor.
Begitu turun.. Buset. Bandaranya kecil ternyata. Mungkin seukuran gedung tekim UGM gabung ama gedung KPFT.. Kayaknya lebih kecil lagi deh. 
Banjar hari itu sangat sepi. Hampir tidak ada toko buka, bahkan untuk sekedar menjual pulsa. Ketika saya tanya ke orang2, karena masih suasana lebaran, masyarakat sini masih pada tutup tokonya.
Ada kebiasaan adat yang hebat dari masyarakat sini adalah, budaya religiusnya yang cukup kuat, dimana toko-toko sebelum maghrib tutup, dan baru setelah Isya buka, dikarenakan yang punya toko mau solat dulu.

Bandara Syamsuddin Noor, ada di semacam kompleks, yang di dekat bandara ada perumahan2 dan beberapa pertokoan. Dan saya harus mencari mess milik PT Adaro Indonesia yang ada di dekat situ. Mess tersebut memang dimaksudkan untuk pegawai PT Adaro dan mitranya yang akan tiba menunggu jemputan shuttle menuju tempat kerja PT Adaro, entah itu di Kelanis, yang merupakan tempat pemrosesan batubara, atau di tambang dan kantor administrasinya di Tutupan dan Wara. Shuttle baru tiba jam 11 malam, dan partner saya, Alul baru tiba di Banjar nanti jam10, kakak saya, Afandi, baru tiba jam 8.
Saya pun menunggu sendiri di mess, yang ternyataa... Enak banget kamarnya.

Ber-AC, berspring bed, kamar mandi enak, Tivinya juga dah flat. Hoho.

Tapi bukan saya klo ga ingin jalan2 dan cari daerah baru.

Sorenya saya pun berjalan keluar kompleks bandara, tepat diluar kompleks ada patung pesawat, dengan dua arah jalan. Setelah saya google maps, yang kiri ke arah Banjarmasin, yang kanan ke arah BanjarBaru, Martapura. Dan.. Semuanya berjarak lebih dari 1 jam, dikarenakan macet. Ada angkot sih, tapi akan sangat merepotkan kalo nanti saya terlambat pulang. Alhasil saya pun harus kembali ke mess.
Monumen Pesawat d Bandara Syamsuddin Noor


Nah, area kompleks bandara ternyata masih ditinggali oleh orang2 Jawa, terutama dari Jawa Timur, jadi bahasa Suroboyoan pun masih kental disini. Baru setelah keluar area kompleks, bahasa sudah berubah menjadi Banjar.

Pkul 11 malam, shuttle datang dan kami pun semua berangkat. Menuju kota paling dekat dengan kompleks PT Adaro, di Tanjung. Jarak 3 jam dari Banjarmasin ( dengan kecepatan tinggi dan ugal2an sopir shuttle juga sih, aslinya lebih dari 4 jam). Di situ lah kami menginap sementara sebelum diantar menuju tempat kerja kami di Kelanis.

Kamis, 03 Juli 2014

Cerita Tentang Prau dan Dieng Part 2

Depth of friendship does not depend on length of acquaintance.(Rabindranath Tagore)
1 Juni, 2014
Matahari mulai meninggi. Udara tidak lagi dingin.
Mulai lapar dan saatnya makaan.. Tapi mesti masak dulu. Dan urusan ini, serahkan ke chef Gangsar dan para wanita-wanitanya. Lalu selamat menikmati. hehehe.

Ini dia kru masak kita




Menu hari ini adalah... sayur sop, abon pedes dan.. kayaknya ada campuran indomie ga ya? lupa saya.
Bila ada Gangsar, makan di gunung dah kualitas tinggi deh. makmur. Sehat. Bergizi.

Satu persatu, para pendaki mulai meninggalkan Prau, seiring teriknya sinar matahari. Ngantuk sih, dan mager. Tapi mesti cepet beres-beres.
Tapi, masih aja, keinginan buat foto-foto, karena kapan lagi bisa kesini beramai-ramai. Akirnya Sesi foto-foto dilanjutin bentar, setelah yang diberesin tinggal dikit lagi.

Halloo Indonesiaa, langit yang cerah

Bukit-bukit "teletubbies" di depan, dan padang alang-alang
Dan tempat camp ternyata bukan puncak Prau sesungguhnya, perlu mendaki sedikit, dan terlihat tulisan kecil di pohon.

Pemandangan dari sisi lain di Puncak. Tampak telaga warna dan di kejauhan terlihat gunung Slamet

Puncak Prau
Dan.. saatnya pulang, alhamdulillaah.. Terima kasih Prau, terima kasih Indonesia.


Foto-foto terakhir sebelum turun dari Prau
Sepertinya, karena kebanyakan foto-foto, kita jadi rombongan terakhir yang turun, karena sudah tidak ada lagi tenda berdiri disitu.
That's special.
Untuk beberapa orang, turun dari gunung lebih susah dari naiknya, dan lebih berpotensi kram. Dan beberapa temen pun gitu. Dan di perjalanan, masih aja ada beberapa pendaki, yang berteriak-teriak tidak jelas dalam berkata, dan mengganggu pendaki lain. Entah apa maunya. Karena yang diucapkan bukan sesuatu untuk dikomunikasikan secara keras. Tapi yaudah sih. Cuman jadi kurang nyaman dengernya.
Pukul 11.00, dari atas puncak. melalui jalan yang sama ketika naik.

Jalan turun, yang berupa hutan

Bunga-bunga kayak gini banyak ditemukan di jalan. Tapi jangan dicabut ya

Sambil turun, narsis

Pukul setengah 2 siang, kami sudah tiba di pos penjagaan lagi untuk masuk ke Prau. Dan disini Agung bilang. "Guys, ada yang masih punya urusan ga habisini? gimana kalo lanjut ke Telaga Warna, mumpung kita masih di Dieng, kapan lagi.."
Kata-kata efektifnya adalah.. Kapan lagi..
Ya. Kapan lagi.
Ama temen-temen 2010, bareng-bareng, yang udah pada mau lulus. Kapan lagi.

Ga tau ya, ini serius pa ya, di Pangkalan ojek, ternyata ketinggiannya dah 2129 mdpl, kita cuman naik 500 meteran berarti

10000 ribu doank, tapi ga seru klo ga naik gunung kan, emang ada jalur lain sih dibelakang ini, jalir motor trail


Jalur pendaki

Pemandangan dari pos penjagaan
Tak lama, semua sampai di base camp dengan selamat. Alhamdulillaah.
Kaki masih pegel-pegel. Muka pada masih merah-merah. Tapi segera kita siap-siap, ke Telaga Warna. Cuman istirahat ganti baju dan solat doank. Lalu cuss..

Seperti kemarin motor belom sehat-sehat bener. Masih bunyi tok..tok..tok.. Kayak mesin traktor keras banget.
Sebelum ke Telaga mampir ke warung makan. Di warung apa ya namanya.. Lupa. Tapi jangan pesen soto, klo aku saranin. ga ada rasanya. mending nasgor, atau rames sekalian.
Lanjut habis makan, ke tempat Telaga Warna. Sekitar 15 menitan doank ternyata, deket banget dari Prau. ya karena masih satu wilayah di Dieng juga sih.

Makan dulu di warung

sedikit komentar bila makan di warung ini : soto-nya kurang recomended, nasgornya lumayan enak, mie rebus-nya kayak mie rebus pada umumnya, pun dengan nasi ramesnya
Pernak-pernik atau pun cindera mata banyak dijual sepanjang jalan, seperti kaos bertuliskan Dieng, badge, stiker, dan semacamnya.
Masuk ke arah Telaga Warna, melewati pos masuk. Tapi bila sudah membayar retribusi di awal ketika masuk Dieng kita langsung dipersilahkan masuk. Tidak lama sampai juga di tempat parkir untuk area wisatanya.
Di tempat parkir ini, di samping-sampingnya banyak menjual pernak-pernik khas Dieng juga, dan yang agak mengejutkan juga menjual banyak bunga-bunga Edelweiss, bunga yang seharusnya tetap dibiarkan di gunung, dilindungi, tetapi disini dijual cukup murah, 40000 rupiah, dapet tiga paket bunga yang sering disebut bunga keabadian. Sangat disayangkan.
Jalan dikit ke areal wisata, cukup membayar 2000 rupiah untuk masuk, dan ternyata ga cuman Telaga Warna yang ada disini, di tulisannya ada Gua, kawah, ama... apa lagi ya, ada beberapa kok, tapi yang paling gedhe ya, telaganya.

Naah, Telaga Warna. Keren.. Sih.
Klo diliat keren. Biru gitu warnannya
Tapi karena ini adalah sejenis Telaga yang terbentuk dari aktivitas vulkanik, jadi baunya pun ya bau sulfur. kayak bau kentut. Tapi baunya satu telaga.
Kayak danau-danu di film-film luar negeri ya?

Yang ini juga. Di belakangnya itu Gunung Prau




Menjelang maghrib jalan-jalan di area wisata Dieng ini kami sudahi. Masih ada 4 jam lebih perjalanan ke Jogja yang bikin mager, apalagi dingin. Tapi barang-barang sewaan kayak tenda takutnya bakalan kena denda kalo telat balikin hari ini.
Nah... Keinginan untuk sampai di Jogja dengan cepat pun menguat, karena bisa-bisa kita disuruh bayar denda lagi.
Iqbal, sang master penggunaan teknologi dan informasi, dengan GPS-nya menunjukkan adanya satu jalan pintas, dengan memotong jalan, tanpa melewati Wonosobo, langsung masuk daerah Temanggung.
Semuanya percaya pada teknologi, karena teknologi jarang salah.

Awalnya melewati dulu kebun-kebun teh, dengan jalan sempit, makin lama jalanya juga makin rusak, masuk jauh...jauh..jauh. Samping kanan dan kiri hanya kebun teh. Dan berkabut.
Kalo di film-film horor, ini bakalan masuk intro horornya, yang kemudian satu persatu kita mulai hilang diculik setannya.
Dan percayalah, pikiran itu kadang-kadang pasti melintas kalo lewat wilayah ini.
Jalan makin menyempit, rusak parah, dan turuuun parah, yang bakal bikin kampas rem kita cepet abis dah. Tikungannya tajem-tajem. Ternyata kami lupa, teknologi GPS yang kami gunakan tidak bisa melihat kondisi geografis. Dan kami menyebutnya "jalur jahannam", "jalur ngawur tenann", yang mengindikasikan beratnya kondisi jalur ini, spesial lagi buat pengendara motor. Mesti sigap mainin rem pun berhati-hati di tikungan. Uji ketangkasan motor.
O iya, di kanan kiri hampir tidak ada orang, sangat sepi, kadang-kadang saja ada rumah, seringnya sih aanya jurang-jurang.
Tapi alhamdulillah, semuanya berhasil melewati jalur ini dengan selamat, termasuk Honda Brio Febri.
Walaupun cepat, jalur ini ga recomended buat dilewati pas hari udah gelap, atau buat yang ga tangguh motornya. Kaga ada lampu jalannya ini jalan.

Jam setengah 10 semuanya dengam selamat tiba lagi di kampus teknik dengan bermacam cerita tak terlupakan.

Semoga cerita petualangan angkatan 2010, tidak berakhir disini.

Sabtu, 07 Juni 2014

Cerita Tentang Prau dan Dieng part 1


"Hamparan Langit Maha Sempurna, Bertahta Bintang-Bintang Angkasa.."Mahadewi-Padi
"ke Prau"
"Kapan?"
"Besok Sabtu, ayok"
"Ama sapa aja?"
"Ini ada aku, Agung, Ma'ruf, ntar banyak kok"

Setelah percakapan di kantin belakang dengan Suryo itu, rencana awal aku yang tadinya mau kembali ke Sumbing untuk bisa ke puncak, jadi ganti ama ke Prau. Gunung Prau yang terdengar dari orang-orang "cuman" gunung pendek, cepet nyampe, tapi panorama yang ada disana mantap, oke, sabi banget laah.
Dan karena kesibukan yang harus berhadapan dengan Tugas Akhir dan 2 minggu lagi UAS, tapi pengen refreshing ke gunung, Prau cocok banget.
Acara yang tadinya cuman mau ngajak segelintir orang saja biar ga repot, tiba-tiba jadi banyak yang pengen ikut, gara-gara aku juga sih, cerita-cerita kalau kita deket-deket ini mau ke Prau, dan akhirnya ada 16 orang yang ikut. Hampir semuanya angkatan 2010, dan yang pengen mencoba naik gunung sebelum lulus kuliah. Dua orang lagi, Kiki, pacarnya Agung, ama Sudib, anak 2011, yang bakalan siap dipakai tenaganya buat bantu bawa tenda, dan yang terpenting, moto-in kita, anak-anak 2010. Tajuk acaranya ganti dari nanjak doank, jadi nanjak massal angkatan 2010 Tekim UGM.

Persiapan dah cukup, daftar barang-barang yang mesti dibawa dah disebar. Malam sebelum keberangkatan, hari Jumatnya, banyak yang nanyain ulang, dari LINE apa sms apa-apa yang mesti dibawa lagi, terutama Febri, yang kayaknya dah mantep mau nyobain untuk pertama kalinya, naik gunung.

Hari Sabtu, 31 Juli 2014.
"Kumpul setengah 7 ya temen-temen, di ruang BSO" itu sms yang aku kirim, tau lah bakalan ngaret, yang akhirnya baru siap semua di BSO buat berangkat jam10an pagi. Ada 12 cowok, 11-nya boncengan naek motor, sisanya 4 cewek, Ami, Febri, Kiki, ama Ketty, naik Honda Brio-nya Febri yang disetirin ama Suryo. Jalannya bakalan jauh, 4 jam lebih, buat nyampe ke Dataran Tinggi Dieng, tempetnya Gunung Prau.
Sebelum berangkat ke Prau, masih pada bersih, dari kiri ke kanan : Ketty, Kiki, Agung, Andhika, aku, Ami, Tito, Iqbal(pake helm), Ihsan, Abang Ilham, Sudib. Yang motoin lupa, yang laen kayaknya lagi ga ke foto



Jam 10an, kita brangkat. Aku semotor ama Gangsar, bawa dua carrier besar yang termasuk isinya logistik ama tenda. Brio Febri takutnya ga kuat nahan kalo ini semua dimasukin kesitu.
Jalan..jalan.. Alhamdulillah lancar.
Tiba-tiba ban motorku yang bermasalah. Terdengar bunyi tok..tok..tok.. Makin lama makin keras, kayak suara traktor. Ban motornya benjol. Harus tetep jalan, karena aku juga ga punya uang buat ganti ban luar sekarang. Tapi suara tok..tok..tok.. di motor akan mengganggu sepanjang perjalanan, dan diliatin orang-orang. Apa boleh buat.
Sampai di pertigaan Hotel Artos Magelang, rombongan ga sengaja kepecah, ada yang lurus, ada yang ke kiri. Dan memutuskan untuk tetep jalan, biar nanti ketemu di Dieng.
Setelah lewat perjalanan panjang, termasuk lewat jalan-jalan di Dieng yang mesti pake gigi 1 di motor, nyampe juga di base camp Prau, jam 2an lebih.
 Plang basecamp pendakian ke Prau

Habis makan ama sholat, perjalanan dimulai.. Jam 4.15.





 Di depan warung makan, siap berangkat
 Jalan pendakian ke Prau awalnya ternyata melewati gang-gang sempit dan perumahan warga, arah jalur-nya ditunjukkan lewat panah-panah arah
 Bingung tadinya mau cari tempat pemanasan dimana, akirnya nemu tanah lapang buat pemanasan bareng-bareng
 Tapi jadi tempat muter mobil juga, jadi terhenti sementara pemanasannya


 Lanjut lagi deh
 Dari perumahan warga, jalan mulai naik, bertangga-tangga

Febri, Ketty, Maruf, Iqbal, Andhika


Dari jalan bertangga-tangga, ujungnya adalah suatu perkebunan sayur punya warga yang luas, berundak, hingga nanti kami menemui pos jaga masuk gunung Prau. Disini diminta menunjukkan tiket masuk ke Prau, yang tadinya dapat dari pos masuk Dataran Tinggi Dieng. O ya, ada ojeknya lho, pake motor trail. 10000 rupiah, nyampe atas kayaknya.
Langit beranjak senja, tidak lagi ada panas menyengat sepanjang perjalanan. Beruntung lagi adalah, kita dapat melihat sunset di perjalanan. Dengan jelas. karena tidak terhalangi oleh pepohonan hutan, dari sini sudah terlihat kebenaran kata orang kalau indahnya gunung Prau, karena sepanjang perjalanan dapat melihat pemandangan yang keren banget. Ada Gunung SIndoro Sumbing, Dataran Tinggi Dieng, dan perkebunan warga.

 Langit senja di perjalanan
 Sudah bisa terlihat, bangunan-bangunan di Dieng jadi seperti miniatur
 Berbagai gunung di Jawa Tengah mulai bisa terlihat, Sindoro, Sumbing, bahkan Merapi dan Merbabu
 Di samping ada perkebunan warga yang luas



 Siluet saat senja








Karena terlalu takjub dengan pemandangan pas perjalanan, jadi lama banget foto-fotonya, haha. Dan matahari mulai menghilang. Kebun-kebun sayur mulai menghilang dan udara jadi semakin dingin.



Sudah mulai terlihat bulan

Sudah gelap. Jalurnya mulai susah, naik terus, dan beberapa kali jalan curam dan licin. Kalau bukan karena waktu tempuhnya yang pendek, jalur pendakian di Prau lumayan berat, apalagi untuk yang belum pernah naik gunung. Dan teman-teman, walaupun sudah diingatkan, beberap lupa bawa senter. Ada yang bawa senter juga redup, kayak tempet Ketty yang bawa senter kuning redup, kayak punya tukang di bengkel mobil mau merbaikin mesin. Tapi semua bisa tercover dengan temen-temen yang dah bawa headlamp, dan Suryo yang malah bawa lampu emergency di perjalanan.


Saat istirahat di perjalanan, masih sempet foto-foto dulu

Malam menjelang. Tapi tidak membuat pesona Prau hilang, perjalanan kemudian dihiasi oleh bintang-bintang, kelamaan semakin banyak. " Coba matiin senter bentar deh ", kata seseorang waktu istirahat. Dan.. keren banget. Bintang-bintang yang bertabur, dan membentuk jalur seperti sungai. Dan bintang jatuh yang beberapa kali terlihat. 
Pendakian kali ini ternyata cukup ramai, rombongan lain di belakang dan kadang rombngan yang akan turun ke bawah jadi susah buat papasan. Kadang-kadang malah ada rombongan anak-anak yang diawasi satu dua orang dewasa saja.
Pukul setengah 8 malam. Tiba di tempat camp, deket puncak. Sudah ada banyak sekali tenda dan ratusan pendaki. Tempat camp di Prau emang luas, itu jadi salah satu kelebihannya.
Tapi udara disini, dingin banget. Ya di bawah, di Dieng aja dah dingin, apalagi di sini.
Seakan-akan ingin cepet bangun tenda, makan, dan tidur. Beberapa pendaki yang mungkin ga ada persiapan, mungkin karena mengira ini "cuman" Prau, dan ga bawa tenda. Itu salah banget. Pendaki-pendaki macem gini mulai nyari-nyari orang yang tendanya masih kosong buat numpang.

Ada satu lagi yang disesalkan adalah, karena jarak tempuhnya yang sebentar, akhirnya banyak sekali orang-orang tak bertanggung jawab dan tak beretika datang disini, sebagai perusuh alam raya.
Mulai dari teriak-teriak ga jelas, dengan kata-kata kotor, bakar-bakar di deket tenda orang, buang sampah seenaknya, very annoying. Sebagian besar pendaki pasti sangat jengkel dengan mereka. Semoga cepat disadarkan.

Jam12 malam. Suryo membangunkan orang-orang di tenda.
"Guys, mau ikut di luar? Bintang-bintangnya lagi keren banget. Kapan lagi liat kayak gini"

Bintang-bintang lagi maksimalnya bertebaran, dan bintang jatuh bermunculan. Tak ada kamera di rombongan ini yang bisa sempat mengabadikannya, hanya terlihat di mata, dan tersimpan dalam hati yang abadi keindahan seperti itu.

Tidur semua hingga subuh menjelang.

Jam 5.15, semua sudah terbangun dan solat, saat-saat paling ditunggu akan tiba, sunrise.

Seluruh pendaki mulai keluar dari tenda, dan menunggu matahari muncul dari cakrawala. Sangat ramai. Ada ratusan orang mungkin, siap berdiri.

 Mulai keliatan matahari muncul
 Gunung-gunung di Jawa Tengah juga mulai terlihat




 Ramainya para pendaki yang ingin melihat sunrise


 Kamera jadul Febri, dipasangi Fish Eye
Foto bareng habis sunrise

Kereeen... Paraaaah sunrise dari atas sini, lebih indah dari foto-foto yang ada, rasa-rasanya ga habis-habis pengen foto, duduk, melihat perlahan sinar matahari muncul. Dan mulai terlihat, Sindoro, Sumbing, Merapi, Merbabu, Lawu..

Dan kemudian disusul momen foto-foto dengan kertas, biar keliatan so sweet. Hehe. 

Dari Isyroqi untuk Ajeng Rahmasari
 Dari Ihsan untuk Annisa Rofi
 Dari Sudib yang nyoba deketin Inas. Eh tapi dia bikin dua tulisan lagi buat dua orang yang berbeda
 Tito buat ceweknya
Andhika buat Asih
Agung ama Kiki buat adeknya Agung yang ultah
Salam Mapateka
Dan buat temen-temen 2010 yang lain, salam "Bongkar" dari Ketty,Ami, Gangsar, Iqbal, Suryo, Sudib, Agung, Oqi, Andhika, Febri, Tito, Abang Ilham, Ihsan, Tyo.