“Seorang pendaki sejatinya tidak sedang menaklukan pucuk-pucuk tertinggi yang menusuk ke langit, melainkan ia sedang menaklukan pucuk-pucuk tertinggi dirinya sendiri sebagai manusia” – Edmund Hillary"Day 3
Pukul 2 dini hari...Dan kami sudah bangun..
Angin masih berhembus sangat kencang, dari dalam tenda saja terdengar suara angin yang keras, wuuuuussshh....wuuuussssh.. Hingga suara tenda yang di tiup angin keras seakan-akan akan terbawa oleh angin . Ketika saya keluar dari tenda, udara dingin yang di bawa angin sangat dingin sekali, kemudian kami menuju tenda perempuan untuk melihat persiapan untuk perjalanan menuju ke puncak. Di luar, orang-orang hampir tidak ada yang keluar dari tenda, hanya beberapa yang memakai senter dan bersiap menghadapi summit attack.
Tetapi ketika kami sudah hampir siap, para porter yang ada di dekat kami mengingatkan betapa bahayanya bila mendaki ke puncak dengan angin sebesar ini, kami di sarankan untuk menunggu dulu di dalam tenda untuk kemudian berharap angin menjadi tidak terlalu kencang berhembus.
Di dalam tenda kami menunggu dan berdoa, sebagian membaca al-Qur'an, berharap Allah melapangkan jalan dan menyelamatkan perjalanan.
Pukul 4 dini hari, angin masih bertiup kencang, tapi sedikit mengecil, saya mengatakan kepada teman-teman saya untuk bersiap naik lagi, sedapetnya, walau nanti ga bisa ke puncak.
Seperti summit attack pada umumnya, seluruh perlengkapan di tinggal di tenda kecuali barang-barang yang diperlukan, seperti air, makanan ringan, roti, obat-obatan, dan tidak lupa juga, oxygen kaleng, yang sewaktu-waktu bisa diperlukan bila keadaan darurat. Untuk perlengkapan ke puncak sebaiknya menggunakan jaket tebal, kupluk, dan sarung tangan.
Jalan dari Plawangan sampai ke atas adalah jalanan berpasir, tanjakan terus tanpa tempat datar, berdebu, dan lebih menyesakkan, di tambah angin yang masih kencang, dan langit masih gelap, karena itu kita perlu memakai masker dan head lamp. Kita tidak menemui orang yang bersama naik ke atas, beberapa kami hanya berpapasan dengan orang yang malah turun ke Plawangan.
Pukul 05.15. Waktu subuh, kami sampi di suatu tempat datar, kami berhenti untuk sholat. Tapi di tempat itu juga kami maksimal mendaki Rinjani. Penunjuk jalan kami, mas Rofan, berkata sebaiknya tidak melanjutkan lagi, pun dengan beberapa orang yang kembali turun, bahwa sepertinya sangat berbahaya melanjutkan naik, karena berikutnya untuk sampai ke puncak adalah jalanan berpasir dengan jurang yang curam di sisi-sisinya. Dan kami pun memutuskan untuk berhenti dan berfoto-foto di tempat itu saja. Dan kami pun menulis beberapa ucapan ketika di atas situ.
Pagi Indonesia... Pagi Rinjani..
Cahaya matahari mulai bersinar
Tebing-tebing curam
Ucapan Tyo untuk adiknya
Untuk teman-teman mapateka
Untuk orang tua Erna
Untuk adik Gangsar
Untuk teman-teman Nurul di Edelweis
Untuk sahabat Puput
Maaf bendera mapateka, kami hanya mampu membawamu sampai sini. Next time semoga kami bisa membawamu ke puncak
Tyo narsis dengan baju KKN
Angin disini kencang, mata jadi agak susah melek
Kami berhasil sampai sejauh ini :')
Di tempat ini kami sudah bisa melihat Gunung Agung atau Gunung Batur di Bali, yang ada di sebelah barat kami. Dan Gunung Tambora yang terlihat kecil di kejauhan di Pulau Sumbawa, sebelah timur kami. Dan dengan berat hati, kami pun hanya bisa sampai di sini.
Dalam hati saya sendiri bertekad untuk kembali lagi ke Rinjani, dan bisa sampai ke puncak.
Suatu saat nanti..
Suatu saat nanti..
Pukul 06.00 kami turun kembali ke tempat camp di Plawangan. Tiba di tempat camp kami hanya beristirahat sebentar, masak dan sarapan, kemudian bersiap-siap untuk turun ke bawah, ke arah danau Segara Anak.
Sarapan sebelum turun ke Segara Anak
Foto dengan bendera dulu..
Setelah selesai makan, tenda sudah di bongkar, barang selesai di kemas kami pu berangkat turun ke arah danau Segara Anak yang Wow banget itu di kejauhan. Sekitar jam 09.00 kami mulai jalan.
Jalan menuju danau menuruni beberapa tebing curam, tapi pemandangannya lebih luar biasa indahnya di banding ketika di Sembalun. Ada tebing batu, padang rumput, ada landai ada turunan, dan terlihat danau yang kok kayak keliatannya deket tapi lama juga nyampenya. Bukit-bukit hijau, pohon cemara dan Edelweiss di mana-mana. Kok bagus banget.. Tak bosan saya melihat yang seperti ini.
Beberapa tebing curam cukup berbahaya karena memiliki batu yang mudah jatuh. Di tengah perjalanan sempat ada batu jatuh yang beberapa inci lagi bisa mengenai kepala kami. Alhamdulillah, tidak terjadi apa-apa.
Bersiap turun ke Segara Anak
Nah, itu dia tujuannya..
Keren bangeet... Pemandangannya lho..
Bukit-bukit hijau
Kadang-kadang ada jalanan sempit di samping tebing yang curam
Istirahat sebentar..
Seolah danau terlihat sangat dekat
Ini di Indonesia lhoo
Dan setelah melewati jalan turun yang indah, kami pun sampai di danau Segara Anak, sekitar pukul 2 siang.. Luar biasaaaa... Danau dengan air biru, dah kayak kolam renang, dengan di seberang danau ada gunung Baru Jari, sebuah gunung kecil dengan kawah yang ada di dekat danau, gunung ini yang jadi pusat aktifitas gunung Rinjani.
Danau sudah di penuhi banyak tenda-tenda. Dan banyak sekali turis asing, terutama kulit putih.
Air di Segara Anak tidak baik untuk diminum, karena mengandung belerang, karena memang di tengah danau terdapat pusat aktivitas gunung Rinjani, yaitu di Gunung Baru Jari. Bentuknya seperti sebuah gunung kecil dengan kawah yang mengeluarkan asap di tengahnya
Itu yang di tengah, gunung Baru Jari, tapi kawahnya ga lagi ngeluarin asap sih
Untuk mengambil air bersih, kita harus berjalan dulu kira-kira setengah kilo ke arah mata air, melewati bebatuan.
Nah, di deket mata air, ada sumber air panass brooo... Wah ini, yang terpikir oleh saya dan teman-teman, ngrasain mandi di gunung. Dah badan capek, pegel-pegel, kena angin, mesti enak ini mandi di aer panas. Setelah tenda kelar, dah makan, langsung cabut deh mandi di air panas, yang mandi cowok doank sih, yang cewek paling cuma cuci2 kaki, ama muka.
Baru kali ini, bisa mandi di gunung, mantaapp daah
Puput lagi bersihin kaki kayaknya
Itu entah awan ato pesawat jet lewat
Entah berapa lama kami menikmati mandi di air panas, rasanya ga pengen keluar, habis tiap keluar dari air panas, kena angin lagi, dingin lagi, terus berendem lagi, mau keluar lagi, kena angin lagi. Gitu terus ampe akhirnya kelar juga mandinya. Nah sumber air panas ini dipercaya banyak oleh orang-orang Lombok bisa jadi obat beberapa penyakit, makanya di sini ada orang-orang dari berbagai daerah di Lombok membawa keluarganya menuju sumber air panas ini.
Puas menikmati air panas, dan dah sholat juga. Kami kembali ke tenda, udah sore. Bakalan indah pasti menikmati senja di danau, kami juga nyoba buat pancingan kecil-kecilan, kali aja ada ikan yang apes banget kena pancingan sederhana kami, yang di umpanin sayur. Di deket danau emang beberapa orang dah niat bawa kail buat mancing, dan dapet banyak ikan.
Tiba-tiba ketika kami asik menikmati danau, orang-orang terlihat terkejut dan melihat ke arah atas danau, ada orang menepuk punggung saya di belakang dan berkata, "Lihat mas, di atas danau, awannya membentuk tulisan Allah.."
Gambar diatas mungkin tidak terlalu jelas, tapi saya melihat dengan jelas sekali awan membentuk tulisan Allah di langit
Subhanallaah... Seakan Ia mengingatkan pada kami semua, bahwa keindahan alam ini semua adalah ciptaan-Nya dan kepunyaan-Nya, dan untuk selayaknya pula selalu mengingat-Nya. Tulisan di awan itu bertahan lama, lalu kemudian berangsur memudar.
Senja yang indah di danau. Kami manfaatkan dengan mengabadikan beberapa foto.
Mencuci piring di danau
Langit mulai memasuki senja
Ada beberapa yang bermain sampan di danau
Rambut berantakan abis mandi
Ketika langit sudah gelap, di mulailah masak-memasak, bersama pendaki-pendaki lain menikmati makanan bersama, di bawah sinar bulan purnama. Wah romantis banget.
Tapi saat itu, saya mulai merasakan demam, kepala yang berat, meriang, yang belakangan di ketahui di dokter setelah saya turun dari Rinjani, karena infeksi dari luka-luka saya di kaki yang tidak terbalut dengan baik, dan ditutupi debu. Tapi untung ini tidak berlangsung lama.
Malam yang indah di danau Segara Anak, membuat suasana semakin akrab, seakan kami sudah mengenal sejak sangat lama...
Bersambung ke part akhir..
Bersambung ke part akhir..









































aku dulu naik k puncak dr plawangan jam 11 siang nunggu sampai badainya reda,hehe,,tp pas perjalanan ke puncak hujan lagi dan di puncak ga lihat apa2,kabut semua..bendera mapateka emang blm pernah sampai k puncak,tp kaos mapateka udah aku bawa ke puncak kok,hehe
BalasHapuswaah, klo belom ke puncak tu kayak terbayang-bayang buat kesana lagi je, klo ada rejeki lah, haha. iyo mas, kan ana ftone nang facebook, aku yo wes moco blogmu, tp belom semua, hehe
BalasHapus