Pages

Jumat, 08 November 2013

See You Soon, Rinjani part 4 (end)


"Now I see the secret of the making of the best person. It is to grow in the open air and to eat and sleep with the earth."(Walt Whitman)

Day 4


Hari keempat, hari kami akan meninggalkan Rinjani. Sebenarnya masih banyak tempat-tempat indah di sekitar gunung yang sayang kalau tidak kami kunjungi, seperti air terjun dan Goa susu, yang untuk mencapainya kami harus berjalan selama beberapa waktu. Gunung ini seperti satu kompleks wisata alam. Tapi seperti rencana awal, kami harus kembali sebelum tanggal 24, kami pun tidak sempat mengunjungi tempat-tempat lain.

Pagi pukul 9, semua sudah siap, tenda sudah di bongkar, perbekalan sudah di kemasi, dan rasanya carier sudah semakin ringan karena kebanyakan bahan logistik sudah dimakan.
Kami akan turun melalui jalur Senaru. Tapi untuk turun dari gunung, meninggalkan Segara Anak, tetap awalnya kami harus mendaki lagi dulu, baru turun, karena danau ini seperti kawah di tengah tebing-tebing gunung.

 Pagi hari, di hari keempat. Nampak orang-orang sudah ramai beraktivitas


 Berfoto bersama dulu sebelum berangkat pulang

Danau dari sudut yang lain

Kami mulai berjalan menyusuri danau, lalu naik ke atas lagi, ke arah tebing-tebing terjal, sangat jauh dan melelahkan, baru kali ini yang namanya mau turun gunung harus naik gunung lagi. Perbekalan logistik seperti makanan ringan sudah hampir habis, bahkan air minum kami hanya bawa 3 botol untuk perjalanan yang jauh ini, karena pagi2 tadi buru-buru berangkat, tidak sempat mengambil air lagi ke mata air, jadi kami harus minum dengan hemat. Sembari menaiki gunung kami sering beristirahat dan berfoto, mumpung masih ada di Rinjani. O iya, dan kami sebenarnya tidak boleh kelamaan kalau jalan. Kami harus sebisa mungkin keluar dari wilayah hutan Senaru tidak terlalu malam, menurut warga kami sangat tidak di sarankan untuk nge-camp di hutan, karena beberapa alasan mistis, seperti bisa di ganggu makhluk halus ataupun hilang, kalaupun sampai kemaleman belum sampai bawah juga, mending tetep jalan di hutah malam-malam daripada harus menginap.


 Kami harus menaiki lagi tanjakan-tanjakan untuk sampai ke atas, di sekeliling jalan terdapat pohon pinus dan alang-alang
 up..up..up..
 Begitu nyampe agak atas, langsung dapat view yang kereen...
 Beberapa jam yang lalu padahal masih maen di pinggir danaunya
 Puncak Rinjani terlihat di kejauhan
 Semoga suatu saat bisa berdiri di puncak itu

 Istirahat, tepar semuaa
 Puput ampe ketiduran



 Ketika bendera berkibar di view yang bagus, selalu terlihat lebih keren
 Kadang ada juga daerah landai setelah tanjakan-tanjakan
Di kanan-kiri jalan penuh batu-batu yang berbahaya sampai ngejatuhin ke bawah, bisa kena orang

Tanjakan buat naik agak berat juga, kadang melewati tebing curam, berbatu, dan kadang di jalur ada pohon besar yang roboh, menghalangi jalan. Kami akan terus menemui jalan menanjak sampai akhirnya tiba di suatu tempat bernama, Plawangan Senaru.

 Pemandangan jelang sampai di Plawangan Senaru
 Tampak beberapa pegangan besi yang mulai bengkok

 Dan, inilah dia tempatnya, Plawangan Senaru, akhir dari seluruh tanjakan
Masih di atas awan, kini jalan yang kami lalui akan turun terus ke bawah sana

Tengah hari kami sampai di Plawangan Senaru, suatu tempat datar yang luas, mulai dari sini jalan yang akan kami lalui hanya turun ke bawah, dan mengakhiri seluruh jalan menanjak di Rinjani.

Dan.. Dari sini baterai semua kamera yang kami punya habis, hehehe.. Rasanya tidak akan ada habisnya kalau mau foto-foto.

Dari Plawangan Senaru, kami menuruni bukit-bukit berpasir, dan berdebu parah, terus turuun, buat yang sepatu treknya kualitas KW dan beli di pasar Klithikan kayak punya saya, kalau ga di sol, pasti jebol deh solnya, ya minimal kekelupas, karena jalannya bisa ampe ndlosor gitu, terus turun. 
Udara panas luar biasa, di pasir-pasir tapi tetep harus hemat minum.

Pukul 3 sore, kami tiba di sebuah pos, yang terdapat sebuah gardu di sana. Kami berhenti hanya untuk sholat.

Sepanjang jalan banyak bule-bule dengan muka memerah berpapasan dengan kami, dan beberapa dari mereka mengatakan, "Indonesiaa... Great.. Beautiful..awesome.." dan sebagainya karena bentuk kekaguman pada tempat-tempat yang mereka lewati.
Mulai dari pos, kemudian beberapa meter lagi, dan kami memasuki hutan Senaru. dari sini perjalanan sampai bawah kaki gunung hanya akan melewati hutan. Sumber mata air terdekat ada di pos 2.

Ada suatu kejadian ketika kami sampai di pos 2, lalu berhenti sejenak, kami melihat pendaki lain membawa bekal makanan-makanan segar, seperti nanas, agar-agar, susu.. Yang pokoknya bikin ngileerr laah.. Tapi tak ada satu pun dari kami yang mengatakannya.
Eh... Bak pucuk dicinta, ulam tiba. Kami ga minta, ga bilang apa-apa, tiba-tiba pendaki lain, menawari kami makanannya seperti agar-agar dan susu, wah dah ga ada malu lagi, kami terima senang hati.

Malam telah tiba, dan kami masih terus berjalan di hutan. Sangat gelap. Dan kami berjalan tidak boleh terpisah jauh satu sama lain. Jalan di hutan malam-malam, dan ga nyampe-nyampe, memang menguji mental dan fisik, karena seakan kita melalui jalan yang sama, namun tak berujung. Jauuh sekali tidak menemui apa-apa kecuali pohon-pohon hutan.

Kami berjalan hingga kami mendengar suara diesel, dan cahaya di kejauhan. Tampak sebuah warung.. Wah akhirnya.. Kami sampai di dekat kaki gunung. Di dekat warung itu ada gapura pintu masuk pendakian, lewat jalur Senaru. Sayang, tidak punya kamera buat memfotonya.

Setelah, ngopi-ngopi dulu, makan mi, minum seger-seger. Kami lanjut jalan. Pikir kami dah deket banget ama jalan raya, eh ternyata masih jalan jauh juga, mana di kanan kiri banyak suara anjing liar. Tapi kami berjalan di terangi cahaya bulan.

Sekitar pukul 11 malam. Kami tiba di pos pendaftaran jalur Senaru. Dan di sana kami menunggu mobil pick up yang di pesan oleh salah seorang pendaki lain untuk mengantar kami ke tempat menginap. Selesai sudah perjalanan panjang ini..

Naah, ketika saya akan membeli minuman dan gantungan kunci di pos pendaftaran, saya bercerita ke penjaga pos, pengen minta nomor pos yang di Sembalu, siapa tahu ada pendaki lain yang menemukan dompet saya, lalu di serahkan ke pos Sembalun..

Eh, ternyata tak disangka, bapak penjaga pos bercerita ada seorang porter menemukan dompet di wilayah Sembalun, lalu berjalan dan menitipkan dompet itu ke pos pendakian Senaru. Dompet dengan ciri-ciri sama, dengan identitas kampus dan tempat tinggal saya. Tapi setelah dititipkan ke pos Senaru, bapak penjaga menitipkan pula kepada salah seorang pendaki, cewek, mahasiswa UGM juga, untuk di bawa, siapa tahu bisa mencari alamat saya nanti di Jogja. Dan Alhamdulillah, bapak penjaga mempunyai nomor mbak yang dititipin dompet saya.. Lengkap sudah kebahagiaan saya, sudah selesai perjalanan, dompet pun ketemu.. Alhamdulillaaah.

Day 5
Sekitar pukul 1 malam, kami tiba di tempat menginap. Mengakhiri perjalanan panjang yang luar biasa di Gunung Rinjani. Pagi-pagi nanti kami bisa bersiap pulang ke Desa Sintung, bertemu teman-teman dan warga desa, bersiap untuk acara perpisahan. Alhamdulillah. Saya sangat bersyukur pernah melakukan perjalanan ini.

Next time, ke Rinjani lagi ? Insya Allah, saya akan ke sana lagi. Semoga tidak terlalu lama lagi.

3 komentar:

  1. semua pendaki yg turun lewat senaru pasti tertipu oleh pintu gerbang pendakian,dikira perjalanan turun sudah selesai,ternyata masih jauh,hehe

    BalasHapus
  2. omg. bisa kalik kesana ajak2 mad :((( hahahah

    BalasHapus
  3. mas wisnu : iyo mas, adoooh jebul, padahal rencanane esuk balik ndono, njuk fto nang gerbang, rasido. haha

    Citra : amiin. haha. coba kesana cit. rasakan sensasinya :))

    BalasHapus