"Yang kita perlu sekarang adalah, cuma kaki yang berjalan lebih jauh dari biasanya, tangan yang akan berbuat lebih banyak dari biasanya, mata yang akan menatap lebih lama dari biasanya, leher yang akan lebih sering melihat ke atas, lapisan tekad yg 1000 kali lebih keras dari baja, dan hati yang akan bekerja lebih keras dari biasanya serta mulut yang selalu berdoa-kutipan 5cm"Day 2
Pagi pertama di gunung Rinjani..
Pagi hari setelah solat subuh kami mulai mempersiapkan barang dan berkemas-kemas untuk melanjutkan perjalanan, di selingi foto-foto juga sih. Sambil melihat sunrise eksotis. Hari ini tujuan kami bisa mencapai Plawangan Sembalun, sebuah tempat camp untuk kemudian dini hari-nya bersiap jalan menuju puncak Rinjani. Setelah sarapan pagi rencana kita jalan. Sarapan paginya pun, spesial.
Pagi Rinjani... Pagi Sembalun..
Berantakan abis bangun tidur..
"makanan wajib" para pendaki gunung mi instan, tapi ini bukan sekedar mi instan
Lauk buat mi instan
Akhirnya semua kelar dan baru jalan pukul 08.30 pagi. Jalan landai sudah sangat berkurang, sekarang mulai dengan beberapa tanjakan. Udara dingin sudah berganti lagi jadi terik matahari. Tidak lama kami berjalan, kami sampai di pos 3.
Bersambung ke part 3
Pos 3 Sembalun. Ini Tyo yang motoin, hehe.
Nah, selepas pos 3, dimulai lah.. kami tiba di daerah dengan nama "Bukit Penyesalan". Kok dinamai seperti itu? Mulai dari sini perjalanan dilalui dengan tanjakan-tanjakan yang seolah tak ada habisnya. Ketika kita sudah mendaki satu bukit dan terlihat dekat puncak bukitnya, ternyata ada bukit lagi, dan lagi. Masih di kanan kiri ditumbuhi ilalang dan juga pohon-pohon cemara, yang membuatnya semakin berat juga adalah debu-debu beterbangan membuat pernafasan juga jadi kurang enak. Apabila kita me-lap bagian dalam hidung kita dengan tisu, pasti tisunya jadi langsung berwarna hitam karena debu. Karena itu, dinamai bukit penyesalan, bukit yang banyak membuat patah semangat para pendaki, untuk kembali ke bawah udah tanggung, tapi untuk naik terlihat sangat jauh.
Bayangin misal persediaan air yang di bawa kurang, pasti bakal lebih menyiksa. Untungnya persediaan kami cukup, dan kami memang ga terlalu banyak minum untuk menghemat air.
Puncaknya masih jauh broo...
Di atas Bukit Penyesalan
Gangsar me-lap hidung dengan tisu
Segeerrr brooo....
Di bukit penyesalan inilah cewek-cewek, kecuali Erna, fisiknya di uji dengan perjalanan melelahkan, ini membuat Puput dan Nurul jadi lebih sering berhenti istirahat. Akhirnya biar cepet bangun tenda, dan mempersiapkan makanan, Tyo, Gangsar dan Erna jalan duluan. Saya menemani ladies2 untuk bisa tetap berjalan melewati Bukit Penyesalan. Pertanyaan yang paling sering keluar dari Puput adalah, "masih jauh ga sih ?", padahal dia tau kalau saya belum pernah ke Rinjani, dan jawaban yang saya pasti, "ga kok, tuh udah keliatan puncak bukitnya", padahal bukitnya kan banyak, atau kata-kata penyemangat, " ayoo, kita harusnya lebih hebat daripada yang di film 5cm, kita kan naiknya Rinjani, lebih tinggii.." .
Ya. Selamat datang di Rinjani.
Bule-bule yang lewat juga dah pada merah-merah kulitnya dan terlihat sangat kelelahan, padahal barang-barang mereka sebagian besar sudah diangkut porter. Sepanjang jalan kami lebih banyak bertemu orang yang turun gunung, biasanya mereka adalah pendaki yang naik gunung bertepatan 17 Agustusan.
Lama sudah kami berjalan, akhirnya terlihat palang besi, bertuliskan Plawangan Sembalun, yang mengakhiri penderitaan jalan yang penuh tanjakan dan seakan tak berujung.
Plawangan Sembalun adalah daerah datar, dan dari sini kami harus berjalan lagi untuk sampai ke tempat camp yang lebih dekat mata air. Penderitaan ternyata belum sepenuhnya berakhir.
Gangsar dah lebih dulu sampai di Plawangan
Merah-Putih berkibar di Plawangan
Edelweis di dekat Plawangan
Jalan datar mengakhiri tanjakan yang menyiksa
Agak lama kami berjalan menuju tempat camp, belum kami temui tenda teman-teman kami, sementara kami melihat para turis asing dengan porternya seperti sedang piknik ceria, tendanya bagus dan besar, membawa kursi lipat dan meja lipat dan makanan ala hotel.
Kami sempat beristirahat duduk sebentar, melihat awan menutupi gunung, lama-kelamaan awan tersebut bergeser, tampak ternyata ia menyembunyikan sesuatu, dan setelah awan sepenuhnya bergeser.. voilaaa.. Ternyata di balik awan ada..
Kami sempat beristirahat duduk sebentar, melihat awan menutupi gunung, lama-kelamaan awan tersebut bergeser, tampak ternyata ia menyembunyikan sesuatu, dan setelah awan sepenuhnya bergeser.. voilaaa.. Ternyata di balik awan ada..
Mulanya tertutup awan..
Voilaaa.... Di balik awan terlihat danau Segara Anak !
This is it ! This is Indonesia !
Danau Segara Anak. Danau yang terkenal keindahan dan eksotisme alamnya terlihat di kejauhan bagai kolam renang raksasa, membuat mata yang melihatnya takjub seraya mengucap syukur kami bisa melihatnya.
Setelah terkagum-kagum melihat danau Segara Anak, kami pun berjalan lagi dan menemui tenda teman-teman kami yang sudah berdiri. Alhamdulillaaah.. saat itu tepat pukul 15.30.
Setelah istirahat sebentar, lalu sholat, sebagian dari kami memasak, sebagian merapikan barang-barang di tenda. Kaki saya yang penuh luka sejak sebelum pendakian dan selama KKN tidak terbalut dengan baik, alhasil sebagian menempel di kaus kaki dan menimbulkan sakit luar biasa saat melepasnya, beberapa lagi di tutupi debu.
Mata air tempatnya harus menuruni tebing dulu beberapa meter ke bawah, cukup curam. Mata air mengalir dari celah-celah batu, airnya sangat segar. Dan untuk pertama kalinya saya cuci muka dan keramas di gunung.
Ketika senja mulai tiba, seperti biasa, angin mulai berhembus kencang membawa udara dingin menggantikan panas terik matahari. Pemandangan senja di Plawangan Sembalun luar biasaaa... Tak jemu rasanya untuk menikmati dan berfoto-foto di sini. Ternyata Indonesia punya alam seindah ini, yang keindahannya seperti dongeng. Terlalu banyak foto-foto indah yang tidak bisa saya upload semua.
Kami harus cepat istirahat, besok dini hari kami berencana untuk bisa ke puncak, sekitar pukul 02.00 pagi. Malam itu angin berhembus sangat kencang.
Dwiwarna berkibar megah saat senja di Plawangan
Lihat.. Mataharinya terbenam
Dan Bendera Mapateka pun berkibar di Rinjani
Saya melihatnya langsung dengan mata saya keindahan seperti negeri dongeng
Pendaki-pendaki lain menikmati Sunset di Plawangan
Sunset seperti di lukisan-lukisan, Indonesia punya ini..
Berhembusnya angin yang kencang menerbangkan sampah-sampah plastik kresek, tapi sampah-sampah ini justru terlihat seperti layangan berwarna-warni
Lautan awan di Plawangan
Puas menikmati senja, dan udara pun semakin dingin, kami lebih sering masuk tenda, dan menikmati makan malam istimewa yang di masak oleh chef profesional kita. O iyaa, hari itu bulan purnama bersinar terang menyinari malam, menambah indah malam di Sembalun. Dan ternyata, di sini masih ada sinyal HP. Ada toilet juga sebenarnya, tapi sudah tidak fungsional, sudah terlalu penuh. Penuh dengan apa? Ya kalian tau lah dengan apa. Hehe.Kami harus cepat istirahat, besok dini hari kami berencana untuk bisa ke puncak, sekitar pukul 02.00 pagi. Malam itu angin berhembus sangat kencang.
Bersambung ke part 3
































0 komentar:
Posting Komentar