“Aku datang kesini bukan untuk membuktikan bahwa aku seorang yang kuat ataupun tangguh. Tapi aku datang untuk melihat betapa ternyata aku hanya bagian yang sangat kecil dari alam ini, hanya sebutir debu di antara langit, bumi, dan bebatuan pegunungan. Dan bahwa Tuhan Yang Maha Kuasa dengan mudah menciptakan alam seindah ini, dan tentulah Ia sangat kuasa menghancurkannya dalam sekejap bagai bulu yang dihamburkan-A.I.A on Rinjani 2013”
Setelah sekian lama saya
akhirnya baru memposting lagi tulisan baru di blog ini, sebenarnya waktu
menulis yang kurang tepat di tengah padatnya deadline tugas dan semakin
dekatnya UTS. Tapi yaa, saya memang ingin sekali bercerita tentang pengalaman
yang mungkin bisa bermanfaat untuk teman2 yang berkeinginan untuk melihat
indahnya alam gunung Rinjani.
Dan ceritanya bermulai
dari....
Akhirnya semua
program-program KKN di Desa Sintung, Kecamatan Pringgarata, Kabupaten Lombok
Tengah selesai semuaa, saatnya melaksanakan rencana yang sudah diimpikan,
direncanakan, dan dipersiapkan dari sebelum KKN oleh enam orang ini, mendaki
gunung Rinjani...
Gunung Rinjani yang
sudah terkenal di luar negeri akan keindahan alamnya, gunung berapi tertinggi
kedua di Indonesia dengan puncaknya setinggi 3726 mdpl.Saatnya pun tiba di tanggal 19 Agustus 2013 ketika keenam pemuda memutuskan untuk memulai petualangan yang bakal ga akan pernah terlupakan seumur hidup mereka. Dan inilah para pelaku kisah ini..
Dari kiri ke kanan : Tyo, Erna, Puput, Nurul, Oqi, Gangsar
Kalau di telaah lebih lanjut..
1. Ahmad Isyroqi Akbar (Oqi)
Nah ini tokoh utama dari cerita ini, karena yang nulis cerita juga, hehe. Saya udah beberapa kali naik gunung, tapi masih juga ga jago packing barang, butuh waktu lama, masuk semua sih bawaannya. Orang yang pelupa dan ceroboh. Meskipun begitu temen2 malah memilih saya jadi ketua perjalanan, walaupun sebenarnya fungsi ketua perjalanan juga tidak terlalu perlu dan penting, tapi mungkin bisa jadi salah satu latihan saya bertanggung jawab, dan bertanggung jawab atas teman2 saya selama pendakian.
2. Gangsar Isworo (Gangsar)
Kepala koki di mapateka ini menemukan partner memasak makanan gunung yang sepadan di sini, ada Nurul dan Erna, terutama Nurul, sehingga teman-temannya bisa tetap makan enak, walaupun di natas gunung. Mempunyai gaya tertawa seperti di film-film sebagai antagonis. Saya dan Gangsar adalah anggota mapateka, sehingga sangat senang bisa membawa bendera mapateka sampai ke Rinjani.
3. Listyo Widyananto (Tyo)
Ini gunung kedua yang di daki Tyo, setelah Merapi. Baru dua kali tidak membuat Tyo gampang capek. Justru dia dari awal sampai akhir pendakian yang membawa tenda dan bahan-bahan lain, strong banget lah, di tawari buat gantian bawa tenda malah ga mau, mungkin takut merepotkan teman-temannya atauu.. jangan-jangan biar keliatan strong di depan Erna? hehe.. Sebelum2nya di gosipkan bahwa mereka berdua mempunyai skandal perasaan (apa coba ini).
4. Pendi Lestiani Novita Putri (Puput)
Puput katanya udah pernah naik gunung, atau lebih tepatnya naik ceria ke gunung Sumbing, dengan perbekalan seadanya dan ga nyampe puncak. Barang bawaannya paling ringan dengan daypack. Alhamdulillah, walaupun pas latian fisik sebelum2 naek sering lemes, tapi kuat kok waktu jalan di sini. Punya masalah dengan agak takut ketinggian jadi waktu turun dari bebatuan yang agak curam sering macet, hehe. Partner bercanda yang bagus.
5. Nurul Lathifah ( Nurul )
Nurul dulunya anggota pecinta alam di SMA-nya. Dan dulu katanya dia kurus. Tapi semenjak kuliah ga pernah naik gunung lagi dan badannya pun jadi melar. hehe. Karena dah lama ga naek gunung jadi sering ngos2an dan berhenti agak lama. Nurul masakannya enak2, akhirnya Gangsar menemukan partner yang sepadan. Nurul banyak memikirkan persiapan dan membuat rencana perjalanan sebelum pendakian dimulai.
6. Erna Setianingsih ( Erna )
Nah, Erna malah belom pernah sama sekali naik gunung, tapi jangan salah, Erna senior di kelompok silat Merpati Putih, jadi fisiknya termasuk yang paling strong, hampir selalu di depan kalau berjalan. Doyanannya ngemil coklat cha-cha dan cemilan lainnya. Tapi ga tau nih, kelanjutan kisahnya ama Tyo gimana jadinya.
Kami punya waktu sekitar 5 hari untuk melakukan perjalanan dari Rinjani kembali ke desa Sintung, karena di tanggal 24 Agustus kami harus menghadiri perpisahan di desa.
Foto yang ada kami berenam di atas adalah foto sebelum berangkat dari kantor desa(tempat pondokan KKN) menuju tempat pendakian di Sembalun, Lombok Timur, dengan mendapat doa dan pelepasan dari temen2 yang ga ikut naik. Buat yang ga ikut naik gunung mereka besoknya bakal nginep di Gili Trawangan buat ngehabisin sisa-sisa waktu di Lombok.
Day 1
Pukul 07.00 pagi kami berangkat menggunakan mobil pick up yang ditutup atau istilahnya open cap. Dari situ kami mampir dulu ke pasar Aikmal untuk membeli sisa logistik seperti sayur-sayuran dan bahan makanan lain, kami sampai di pasar pukul 08.30.
Sebenarnya untuk mencapai Sembalun biasanya mobil-mobil yang di pakai jenis diesel, karena jalan ketika mendekati Sembalun sangat menanjak, apalagi saat memasuki gapura Taman Nasional Gunung Rinjani. Alhasil mobil yang kami tumpangi sering terlalu berat di tanjakan dan kami setiap ada tanjakan yang berat harus turun dari mobil supaya mobil bisa melewati tanjakan. Belom naik gunung dah capek duluan ini (u.u).
Dan begitu selesai jalan tanjakan ada sebuah tempat untuk berhenti beristirahat, sebuah tempat yang kami gunakan untuk berfoto dulu selepas jalan-jalan tanjakan.
Istirahat dulu habis dorong-dorong mobil
Tidak lama perjalanan di lanjutkan hingga pukul 11.15 kami tiba di pos Jagawana, tempat mendaftar pendakian ke gunung Rinjani. Cukup menulis nama, alamat, asal, dan nomor telepon. Di buku pendaftaran terlihat sekali banyak nama-nama berasal dari luar negeri, terutama Eropa dan Amerika. O iya, disini terakhir ada kamar mandi umum, setelah pos ini ya kalau mau ke kamar mandi mesti di rumah warga atau ke masjid.
Tiket masuknya murah banget kan, hehe..
Rute pendakian jalur Sembalun
Tampak di tengah ada teman kami, Agung yang hanya mengantar sampai Sembalun
Pukul 11.30 kami sudah ada di dekat jalur pendakian Sembalun. Kami menunggu di sini dulu untuk menunggu waktu solat Dhuhur. Di sini ada banyak rumah warga yang sangat sederhana dengan sebuah masjid, daerahnya sangat gersang dan tandus. Dan karena ini bukan musim hujan, sangat panas sekali. Tapi dari sini ada banyak pendaki, baik yang baru turun atau baru akan memulai pendakian, begitu juga bule-bule yang biasanya memakai porter untuk mengangkut barang bawaan mereka, hebatnya para porter ini hanya menggunakan dua keranjang yang disambung sebuah bambu di pundak mereka untuk membawa barang2 berat macam tenda dan logistik. Luar biasa. Padahal di cuaca seterik itu.
Jalur Pendakian dan Turun Gunung Rinjani
Pukul 13.00, setelah selesai solat kami pun mulai pendakian ke gunung Rinjani.
Lalu kami di sambut padang rumput alang-alang luas, tetapi di cuaca sangat terik, penuh debu, dan bahkan seperti tidak ada awan kecuali kecil sekali, langit yang biru.
Satu langkah. Dua langkah. Tiga. Empat. Baru beberapa meter tenaga serasa dikuras untuk bisa beradaptasi di Sembalun, beberapa kali kami beristirahat. Di awal perjalanan masih ada sapi-sapi warga yang di gembalakan. Jalurnya pun sangat landai, terlihat seperti jalan yang sangat jauh, tetapi dengan pemandangan indah alang-alang, kayal di film-film India, cuman di sini kita ga joget ataupun nyanyi.
Padang alang-alang Sembalun
Kayak di sabana-sabana di Afrika ya..
Bendera merah-putih yang di bawa sepanjang perjalanan
Istirahat, belom jauh ini padahal
Di tengah indahnya padang Sembalun ini saya kehilangan dompet yang terjatuh, tas carier yang saya bawa pun salah satu talinya jebol karena sepertinya kelebihan muatan, menambah tantangan di hari pertama pendakian. -__-.
Keindahan membuat saya agak lupa dengan beberapa peristiwa naas tersebut. Luar biasaa.. Ini ada di Indonesia. Sepanjang jalan kami menemui para bule-bule, banyak banget. Keindahan Rinjani membawa mereka sampai disini.
Lama sekali tidak kami temui pos, akhirnya pukul 4 sore kami tiba di pos 1. Sebuah tempat datar dengan gardu, di sini kami beristirahat sejenak.
Tujuan tempat kami minimal bisa nge-camp di pos 2 atau sebuah tempat dekat pos 3. Tyo yang bawa tenda jalan duluan bersama Gangsar dan Puput biar bisa siap2in tenda sebelum terlalu berat. Saya sendiri harus menunggu Nurul yang masih ngos2an di pos 1.
Pos 1 jalur Sembalun, di tempuh 3 jam
Saya dan Nurul tidak lama pun berjalan melanjutkan perjalanan, takut kemaleman di jalan. Ga krasa jarak pos 1 ke pos 2 agak deket, cuman 1 jam. Jam 5 kami sampai di sana, tempatnya melewati sebuah jembatan. Karena Tyo dkk. tidak ada disini kami melanjutkan jalan, angin yang bertiup menjelang petang mulai membawa hawa dingin. Jalan-jalannya mulai tidak landai lagi.
Ini mereka dah jalan duluan dan foto-foto di pos 2
Tepat pukul 18.30, sebelum petang kami menemukan tempat camp yang di bangun Tyo, sebuah dataran dan di sampingnya ada sebuah gardu, sebuah pos bayangan. Eh di sini masih ada sinyal lho. Ada toilet pula. Rinjani ternyata gunung yang elit. Di tempat camp kami di sambut dengan pemandangan sunset yang indah.
Seiring datangnya senja, seiring pula bertambah angin kencang membawa udara dingin.
Setelah tempat camp sudah siap, saatnya makan, solat dan beristirahat untuk memulai perjalanan besok yang lebih berat. Ada "bukit penyesalan" menunggu keesokan harinya..
Gardu di depan tempat camp
Ada banyak pendaki lain yang nge-camp di tempat yang sama
Senja di tempat camp, dengan sunset sebagai latar belakang
Makan malam pertama.. Soto ketupat
Bersambung ke part 2...


































foto pertama di day 1 bagus tempatnya, ga tau ada tempat kaya gini, dulu perjalanan dr mataram ke sembalun malam soalnya..
BalasHapusbtw ini klo komen ga usah dikasih captcha, biara orang2 ga males komen,hehe
caranya gmana mas? maklum, baru buat klo blog. hehe
BalasHapus4 Best Oculus Rift Accessories
BalasHapus› › Games › › titanium 3d printing Games Oculus Rift can be a VR headset to use for exploring a titanium daith jewelry range of titanium guitar chords activities. It ford titanium ecosport lets you explore various titanium ore terraria areas of the world with friends,