Pages

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Selasa, 22 Oktober 2013

See You Soon, Rinjani part 2

"Yang kita perlu sekarang adalah, cuma kaki yang berjalan lebih jauh dari biasanya, tangan yang akan berbuat lebih banyak dari biasanya, mata yang akan menatap lebih lama dari biasanya, leher yang akan lebih sering melihat ke atas, lapisan tekad yg 1000 kali lebih keras dari baja, dan hati yang akan bekerja lebih keras dari biasanya serta mulut yang selalu berdoa-kutipan 5cm"
Day 2
Pagi pertama di gunung Rinjani..

Pagi hari setelah solat subuh kami mulai mempersiapkan barang dan berkemas-kemas untuk melanjutkan perjalanan, di selingi foto-foto juga sih. Sambil melihat sunrise eksotis. Hari ini tujuan kami bisa mencapai Plawangan Sembalun, sebuah tempat camp untuk kemudian dini hari-nya bersiap jalan menuju puncak Rinjani. Setelah sarapan pagi rencana kita jalan. Sarapan paginya pun, spesial.
 Pagi Rinjani... Pagi Sembalun..
 Berantakan abis bangun tidur..
 "makanan wajib" para pendaki gunung mi instan, tapi ini bukan sekedar mi instan
Lauk buat mi instan
Akhirnya semua kelar dan baru jalan pukul 08.30 pagi. Jalan landai sudah sangat berkurang, sekarang mulai dengan beberapa tanjakan. Udara dingin sudah berganti lagi jadi terik matahari. Tidak lama kami berjalan, kami sampai di pos 3.
Pos 3 Sembalun. Ini Tyo yang motoin, hehe.
Nah, selepas pos 3, dimulai lah.. kami tiba di daerah dengan nama "Bukit Penyesalan". Kok dinamai seperti itu? Mulai dari sini perjalanan dilalui dengan tanjakan-tanjakan yang seolah tak ada habisnya. Ketika kita sudah mendaki satu bukit dan terlihat dekat puncak bukitnya, ternyata ada bukit lagi, dan lagi. Masih di kanan kiri ditumbuhi ilalang dan juga pohon-pohon cemara, yang membuatnya semakin berat juga adalah debu-debu beterbangan membuat pernafasan juga jadi kurang enak. Apabila kita me-lap bagian dalam hidung kita dengan tisu, pasti tisunya jadi langsung berwarna hitam karena debu. Karena itu, dinamai bukit penyesalan, bukit yang banyak membuat patah semangat para pendaki, untuk kembali ke bawah udah tanggung, tapi untuk naik terlihat sangat jauh.

Bayangin misal persediaan air yang di bawa kurang, pasti bakal lebih menyiksa. Untungnya persediaan kami cukup, dan kami memang ga terlalu banyak minum untuk menghemat air.

 Puncaknya masih jauh broo...


 Di atas Bukit Penyesalan
 Gangsar me-lap hidung dengan tisu
Segeerrr brooo....
Di bukit penyesalan inilah cewek-cewek, kecuali Erna, fisiknya di uji dengan perjalanan melelahkan, ini membuat Puput dan Nurul jadi lebih sering berhenti istirahat. Akhirnya biar cepet bangun tenda, dan mempersiapkan makanan, Tyo, Gangsar dan Erna jalan duluan. Saya menemani ladies2 untuk bisa tetap berjalan melewati Bukit Penyesalan. Pertanyaan yang paling sering keluar dari Puput adalah, "masih jauh ga sih ?", padahal dia tau kalau saya belum pernah ke Rinjani, dan jawaban yang saya pasti, "ga kok, tuh udah keliatan puncak bukitnya", padahal bukitnya kan banyak, atau kata-kata penyemangat, " ayoo, kita harusnya lebih hebat daripada yang di film 5cm, kita kan naiknya Rinjani, lebih tinggii.." .

Ya. Selamat datang di Rinjani.

Bule-bule yang lewat juga dah pada merah-merah kulitnya dan terlihat sangat kelelahan, padahal barang-barang mereka sebagian besar sudah diangkut porter. Sepanjang jalan kami lebih banyak bertemu orang yang turun gunung, biasanya mereka adalah pendaki yang naik gunung bertepatan 17 Agustusan.
Lama sudah kami berjalan, akhirnya terlihat palang besi, bertuliskan Plawangan Sembalun, yang mengakhiri penderitaan jalan yang penuh tanjakan dan seakan tak berujung.

Plawangan Sembalun adalah daerah datar, dan dari sini kami harus berjalan lagi untuk sampai ke tempat camp yang lebih dekat mata air. Penderitaan ternyata belum sepenuhnya berakhir.

 Gangsar dah lebih dulu sampai di Plawangan


 Merah-Putih berkibar di Plawangan

 Edelweis di dekat Plawangan
Jalan datar mengakhiri tanjakan yang menyiksa
Agak lama kami berjalan menuju tempat camp, belum kami temui tenda teman-teman kami, sementara kami melihat para turis asing dengan porternya seperti sedang piknik ceria, tendanya bagus dan besar, membawa kursi lipat dan meja lipat dan makanan ala hotel.
 Kami sempat beristirahat duduk sebentar, melihat awan menutupi gunung, lama-kelamaan awan tersebut bergeser, tampak ternyata ia menyembunyikan sesuatu, dan setelah awan sepenuhnya bergeser.. voilaaa.. Ternyata di balik awan ada..
 Mulanya tertutup awan..
Voilaaa.... Di balik awan terlihat danau Segara Anak !

This is it ! This is Indonesia !
Danau Segara Anak. Danau yang terkenal keindahan dan eksotisme alamnya terlihat di kejauhan bagai kolam renang raksasa, membuat mata yang melihatnya takjub seraya mengucap syukur kami bisa melihatnya.
Setelah terkagum-kagum melihat danau Segara Anak, kami pun berjalan lagi dan menemui tenda teman-teman kami yang sudah berdiri. Alhamdulillaaah.. saat itu tepat pukul 15.30.

Setelah istirahat sebentar, lalu sholat, sebagian dari kami memasak, sebagian merapikan barang-barang di tenda. Kaki saya yang penuh luka sejak sebelum pendakian dan selama KKN tidak terbalut dengan baik, alhasil sebagian menempel di kaus kaki dan menimbulkan sakit luar biasa saat melepasnya, beberapa lagi di tutupi debu. 

Mata air tempatnya harus menuruni tebing dulu beberapa meter ke bawah, cukup curam. Mata air mengalir dari celah-celah batu, airnya sangat segar. Dan untuk pertama kalinya saya cuci muka dan keramas di gunung.

Ketika senja mulai tiba, seperti biasa, angin mulai berhembus kencang membawa udara dingin menggantikan panas terik matahari. Pemandangan senja di Plawangan Sembalun luar biasaaa... Tak jemu rasanya untuk menikmati dan berfoto-foto di sini. Ternyata Indonesia punya alam seindah ini, yang keindahannya seperti dongeng. Terlalu banyak foto-foto indah yang tidak bisa saya upload semua.

 Dwiwarna berkibar megah saat senja di Plawangan
 Lihat.. Mataharinya terbenam
 Dan Bendera Mapateka pun berkibar di Rinjani
 Saya melihatnya langsung dengan mata saya keindahan seperti negeri dongeng
 Pendaki-pendaki lain menikmati Sunset di Plawangan
 Sunset seperti di lukisan-lukisan, Indonesia punya ini..
 Berhembusnya angin yang kencang menerbangkan sampah-sampah plastik kresek, tapi sampah-sampah ini justru terlihat seperti layangan berwarna-warni
 Lautan awan di Plawangan
Puas menikmati senja, dan udara pun semakin dingin, kami lebih sering masuk tenda, dan menikmati makan malam istimewa yang di masak oleh chef profesional kita. O iyaa, hari itu bulan purnama bersinar terang menyinari malam, menambah indah malam di Sembalun. Dan ternyata, di sini masih ada sinyal HP. Ada toilet juga sebenarnya, tapi sudah tidak fungsional, sudah terlalu penuh. Penuh dengan apa? Ya kalian tau lah dengan apa. Hehe.


Kami harus cepat istirahat, besok dini hari kami berencana untuk bisa ke puncak, sekitar pukul 02.00 pagi. Malam itu angin berhembus sangat kencang.

Bersambung ke part 3

Senin, 21 Oktober 2013

See You Soon, Rinjani part 1

“Aku datang kesini bukan untuk membuktikan bahwa aku seorang yang kuat ataupun tangguh. Tapi aku datang untuk melihat betapa ternyata aku hanya bagian yang sangat kecil dari alam ini, hanya sebutir debu di antara langit, bumi, dan bebatuan pegunungan. Dan bahwa Tuhan Yang Maha Kuasa dengan mudah menciptakan alam seindah ini, dan tentulah Ia sangat kuasa menghancurkannya dalam sekejap bagai bulu yang dihamburkan-A.I.A on Rinjani 2013”
Setelah sekian lama saya akhirnya baru memposting lagi tulisan baru di blog ini, sebenarnya waktu menulis yang kurang tepat di tengah padatnya deadline tugas dan semakin dekatnya UTS. Tapi yaa, saya memang ingin sekali bercerita tentang pengalaman yang mungkin bisa bermanfaat untuk teman2 yang berkeinginan untuk melihat indahnya alam gunung Rinjani.

Dan ceritanya bermulai dari....

Akhirnya semua program-program KKN di Desa Sintung, Kecamatan Pringgarata, Kabupaten Lombok Tengah selesai semuaa, saatnya melaksanakan rencana yang sudah diimpikan, direncanakan, dan dipersiapkan dari sebelum KKN oleh enam orang ini, mendaki gunung Rinjani...
Gunung Rinjani yang sudah terkenal di luar negeri akan keindahan alamnya, gunung berapi tertinggi kedua di Indonesia dengan puncaknya setinggi 3726 mdpl.

Saatnya pun tiba di tanggal 19 Agustus 2013 ketika keenam pemuda memutuskan untuk memulai petualangan yang bakal ga akan pernah terlupakan seumur hidup mereka. Dan inilah para pelaku kisah ini..
Dari kiri ke kanan : Tyo, Erna, Puput, Nurul, Oqi, Gangsar

Kalau di telaah lebih lanjut..
1. Ahmad Isyroqi Akbar (Oqi)

Nah ini tokoh utama dari cerita ini, karena yang nulis cerita juga, hehe. Saya udah beberapa kali naik gunung, tapi masih juga ga jago packing barang, butuh waktu lama, masuk semua sih bawaannya. Orang yang pelupa dan ceroboh. Meskipun begitu temen2 malah memilih saya jadi ketua perjalanan, walaupun sebenarnya fungsi ketua perjalanan juga tidak terlalu perlu dan penting, tapi mungkin bisa jadi salah satu latihan saya bertanggung jawab, dan bertanggung jawab atas teman2 saya selama pendakian. 
2. Gangsar Isworo (Gangsar)

Kepala koki di mapateka ini menemukan partner memasak makanan gunung yang sepadan di sini, ada Nurul dan Erna, terutama Nurul, sehingga teman-temannya bisa tetap makan enak, walaupun di natas gunung. Mempunyai gaya tertawa seperti di film-film sebagai antagonis. Saya dan Gangsar adalah anggota mapateka, sehingga sangat senang bisa membawa bendera mapateka sampai ke Rinjani.
3. Listyo Widyananto (Tyo)

Ini gunung kedua yang di daki Tyo, setelah Merapi. Baru dua kali tidak membuat Tyo gampang capek. Justru dia dari awal sampai akhir pendakian yang membawa tenda dan bahan-bahan lain, strong banget lah, di tawari buat gantian bawa tenda malah ga mau, mungkin takut merepotkan teman-temannya atauu.. jangan-jangan biar keliatan strong di depan Erna? hehe.. Sebelum2nya di gosipkan bahwa mereka berdua mempunyai skandal perasaan (apa coba ini). 
4. Pendi Lestiani Novita Putri (Puput)

Puput katanya udah pernah naik gunung, atau lebih tepatnya naik ceria ke gunung Sumbing, dengan perbekalan seadanya dan ga nyampe puncak. Barang bawaannya paling ringan dengan daypack. Alhamdulillah, walaupun pas latian fisik sebelum2 naek sering lemes, tapi kuat kok waktu jalan di sini. Punya masalah dengan agak takut ketinggian jadi waktu turun dari bebatuan yang agak curam sering macet, hehe. Partner bercanda yang bagus.
5. Nurul Lathifah ( Nurul )

Nurul dulunya anggota pecinta alam di SMA-nya. Dan dulu katanya dia kurus. Tapi semenjak kuliah ga pernah naik gunung lagi dan badannya pun jadi melar. hehe. Karena dah lama ga naek gunung jadi sering ngos2an dan berhenti agak lama. Nurul masakannya enak2, akhirnya Gangsar menemukan partner yang sepadan. Nurul banyak memikirkan persiapan dan membuat rencana perjalanan sebelum pendakian dimulai.
6. Erna Setianingsih ( Erna )
Nah, Erna malah belom pernah sama sekali naik gunung, tapi jangan salah, Erna senior di kelompok silat Merpati Putih, jadi fisiknya termasuk yang paling strong, hampir selalu di depan kalau berjalan. Doyanannya ngemil coklat cha-cha dan cemilan lainnya. Tapi ga tau nih, kelanjutan kisahnya ama Tyo gimana jadinya.

Kami punya waktu sekitar 5 hari untuk melakukan perjalanan dari Rinjani kembali ke desa Sintung, karena di tanggal 24 Agustus kami harus menghadiri perpisahan di desa.

Foto yang ada kami berenam di atas adalah foto sebelum berangkat dari kantor desa(tempat pondokan KKN) menuju tempat pendakian di Sembalun, Lombok Timur, dengan mendapat doa dan pelepasan dari temen2 yang ga ikut naik. Buat yang ga ikut naik gunung mereka besoknya bakal nginep di Gili Trawangan buat ngehabisin sisa-sisa waktu di Lombok. 

Day 1
Pukul 07.00 pagi kami berangkat menggunakan mobil pick up yang ditutup atau istilahnya open cap. Dari situ kami mampir dulu ke pasar Aikmal untuk membeli sisa logistik seperti sayur-sayuran dan bahan makanan lain, kami sampai di pasar pukul 08.30. 
Sebenarnya untuk mencapai Sembalun biasanya mobil-mobil yang di pakai jenis diesel, karena jalan ketika mendekati Sembalun sangat menanjak, apalagi saat memasuki gapura Taman Nasional Gunung Rinjani. Alhasil mobil yang kami tumpangi sering terlalu berat di tanjakan dan kami setiap ada tanjakan yang berat harus turun dari mobil supaya mobil bisa melewati tanjakan. Belom naik gunung dah capek duluan ini (u.u).

Dan begitu selesai jalan tanjakan ada sebuah tempat untuk berhenti beristirahat, sebuah tempat yang kami gunakan untuk berfoto dulu selepas jalan-jalan tanjakan.

Istirahat dulu habis dorong-dorong mobil


Tidak lama perjalanan di lanjutkan hingga pukul 11.15 kami tiba di pos Jagawana, tempat mendaftar pendakian ke gunung Rinjani. Cukup menulis nama, alamat, asal, dan nomor telepon. Di buku pendaftaran terlihat sekali banyak nama-nama berasal dari luar negeri, terutama Eropa dan Amerika. O iya, disini terakhir ada kamar mandi umum, setelah pos ini ya kalau mau ke kamar mandi mesti di rumah warga atau ke masjid.
Tiket masuknya murah banget kan, hehe..
Rute pendakian jalur Sembalun
Tampak di tengah ada teman kami, Agung yang hanya mengantar sampai Sembalun
Pukul 11.30 kami sudah ada di dekat jalur pendakian Sembalun. Kami menunggu di sini dulu untuk menunggu waktu solat Dhuhur. Di sini ada banyak rumah warga yang sangat sederhana dengan sebuah masjid, daerahnya sangat gersang dan tandus. Dan karena ini bukan musim hujan, sangat panas sekali. Tapi dari sini ada banyak pendaki, baik yang baru turun atau baru akan memulai pendakian, begitu juga bule-bule yang biasanya memakai porter untuk mengangkut barang bawaan mereka, hebatnya para porter ini hanya menggunakan dua keranjang yang disambung sebuah bambu di pundak mereka untuk membawa barang2 berat macam tenda dan logistik. Luar biasa. Padahal di cuaca seterik itu.

Jalur Pendakian dan Turun Gunung Rinjani

Pukul 13.00, setelah selesai solat kami pun mulai pendakian ke gunung Rinjani.
Lalu kami di sambut padang rumput alang-alang luas, tetapi di cuaca sangat terik, penuh debu, dan bahkan seperti tidak ada awan kecuali kecil sekali, langit yang biru.
Satu langkah. Dua langkah. Tiga. Empat. Baru beberapa meter tenaga serasa dikuras untuk bisa beradaptasi di Sembalun, beberapa kali kami beristirahat. Di awal perjalanan masih ada sapi-sapi warga yang di gembalakan. Jalurnya pun sangat landai, terlihat seperti jalan yang sangat jauh, tetapi dengan pemandangan indah alang-alang, kayal di film-film India, cuman di sini kita ga joget ataupun nyanyi. 
Padang alang-alang Sembalun

Kayak di sabana-sabana di Afrika ya..
Bendera merah-putih yang di bawa sepanjang perjalanan

Istirahat, belom jauh ini padahal
Di tengah indahnya padang Sembalun ini saya kehilangan dompet yang terjatuh, tas carier yang saya bawa pun salah satu talinya jebol karena sepertinya kelebihan muatan, menambah tantangan di hari pertama pendakian. -__-.
Keindahan membuat saya agak lupa dengan beberapa peristiwa naas tersebut. Luar biasaa.. Ini ada di Indonesia. Sepanjang jalan kami menemui para bule-bule, banyak banget. Keindahan Rinjani membawa mereka sampai disini.
 Lama sekali tidak kami temui pos, akhirnya pukul 4 sore kami tiba di pos 1. Sebuah tempat datar dengan gardu, di sini kami beristirahat sejenak.
Tujuan tempat kami minimal bisa nge-camp di pos 2 atau sebuah tempat dekat pos 3. Tyo yang bawa tenda jalan duluan bersama Gangsar dan Puput biar bisa siap2in tenda sebelum terlalu berat. Saya sendiri harus menunggu Nurul yang masih ngos2an di pos 1.

Pos 1 jalur Sembalun, di tempuh 3 jam
Saya dan Nurul tidak lama pun berjalan melanjutkan perjalanan, takut kemaleman di jalan. Ga krasa jarak pos 1 ke pos 2 agak deket, cuman 1 jam. Jam 5 kami sampai di sana, tempatnya melewati sebuah jembatan. Karena Tyo dkk. tidak ada disini kami melanjutkan jalan, angin yang bertiup menjelang petang mulai membawa hawa dingin. Jalan-jalannya mulai tidak landai lagi.

Ini mereka dah jalan duluan dan foto-foto di pos 2
Tepat pukul 18.30, sebelum petang kami menemukan tempat camp yang di bangun Tyo, sebuah dataran dan di sampingnya ada sebuah gardu, sebuah pos bayangan. Eh di sini masih ada sinyal lho. Ada toilet pula. Rinjani ternyata gunung yang elit. Di tempat camp kami di sambut dengan pemandangan sunset yang indah.
Seiring datangnya senja, seiring pula bertambah angin kencang membawa udara dingin.
Setelah tempat camp sudah siap, saatnya makan, solat dan beristirahat untuk memulai perjalanan besok yang lebih berat. Ada "bukit penyesalan" menunggu keesokan harinya..
Gardu di depan tempat camp
Ada banyak pendaki lain yang nge-camp di tempat yang sama
Senja di tempat camp, dengan sunset sebagai latar belakang
Makan malam pertama.. Soto ketupat


Bersambung ke part 2...