Pages

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Kamis, 26 Januari 2017

Back To Rinjani ( The Beginning )





Heeyyyy...... Hellooo...

Setelah vakum, hiatus, off, bertahun tahun lalu... Akirnya saya pun menulis lagi. Walaupun semakin terbatas waktu saat ini (karena saat ini saya sudah bekerja, sambil kuliah lagi, dolan2 juga masih kadang) , tapi pengalaman kembali ke Rinjani pengen banget saya ceritakan ke siapapun.. Dan setelah keisengan beberapa waktu yang lalu ketika cuti, bisa juga saya tulis satu part ( sepertinya akan menjadi beberapa part lagi).  Okey, kita mulai~ 


 
Hari Selasa sore, tanggal 3 Mei 2016, Bandara Soekarno-Hatta.
Tiba di Terminal 1. Tiket pesawat kami menunjukkan take off pesawat jam 8 malam, dengan himbauan check in 1,5 jam sebelumnya. Demi menghindari macet saya cepat2 pergi dari kantor tadi dari jam 1 siang, menaiki bis bandara dari Bekasi. Dengan santai menunggu dua orang lain yang belum datang, Maruf dan Baceng.

Satu orang rombongan lain, si Gangsar yang berangkat dari Pontianak sudah sampai di Lombok dan menunggu kedatangan kami di tempat saudara jauh saya disana, Mas Huda. Akhirnya trip yang direncanakan setelah 6 bulan tidaklah jadi wacana. Sedikit lagi saya kembali lagi ke RInjani setelah 3 tahun yang lalu, dan gagal sampai di puncaknya. Dan hari ini saatnya.
Saya sampai di bandara jam 3 sore. Masih sempat bersantai, solat asar, liat2 pesawat, liat2 makanan, terus check-in, boarding bagasi, dan bengong nungguin dua orang tadi, mereka emang jagoan ngaret, tapi saya percaya mereka tidak sebodoh itu untuk urusan keberangkatan pesawat..
Tidak sebodoh itu harusnya…

Ternyata tidak. Mereka bodoh.

Nungguin sambil ngeliatin pesawat-pesawat di Bandara Soetta


Beberapa jam berlalu, saya mulai jengah, dan akhirnya menanyakan posisi mereka. Pukul 4 sore, katanya mereka berdua mau nge-Uber barengan aja, dan baru mau berangkat. Pembaca pasti tau kan, Jakarta jam 5 sore menghadirkan neraka dunia berupa kemacetan parah pasca orang-orang kantor pulang kerja. O iya, posisi rumah Baceng di Cijantung dan Maruf di Pancoran, mereka mau ketemuan di Pancoran, terus ke Soetta. Saya dah wanti2 jangan ampe berangkat jam 5.

Dan mereka baru berangkat jam 5.


Di tengah kepanikan saya sendirian di bandara, tentang pikiran apakah mereka bisa sampai tepat waktu di Soetta. Pesawat berangkat jam 8, setengah 8 harusnya semua barang harus boarding.
Jam 7, panik semakin menjadi-jadi. Mereka berdua belum kelihatan.
Jam setengah 8 lebih 5 menit, mereka terlihat. Berjalan menghampiri dengan carrier gede.
Lha entah kenapa tiba-tiba Maruf berbelok.

“Maruf pipis dulu coy, tadi dia dah mau pipis deket jalan tol” Kata Baceng. Ini kan seperti yang dah dibilang tadi dah mau telat ya…

Habis itu kita semua ikut lari-larian, setelah nego cukup dengan petugas maskapai biar tas dua orang tadi dibolehin ditaro bagasi (ya kali kan carrier dibawa ke kabin pesawat), akhirnya dibolehin untuk tas terakhir masuk ke bagasi terakhir. Terus kita disuruh lari kea rah ruang tunggu, katanya pesawat dah siap. Dan saya pun harus ikut lari-lari lagi..

Sampai di ruang pemeriksaan barang terakhir kita terpisah karena antrian, saya pun masuk ke bis yang mengantarkan penumpang ke pesawat. Iseng-iseng nanya ama petugas bisnya,

“Mas, ini bukan bis terakhir kan?”
“Bukan sih Mas, paling masih ada satu bis lagi di belakang”Kata Mas petugas bis bandara.
Wuaduh kira-kira nyampe ga tuh dua orang di bis terakhir..

Sampe pesawat, posisi bangku kita pas di depan dekat pintu masuk. Saya terus melihat ke arah pintu, dan beberapa saat kemudian, kedua orang itu masuk.
Alhamdulillaaah. Jadi akhirnya kita bertiga ke Lombok, kirain bakal sendirian. Ini pakaian juga dah basah ama keringet.

“Kok pada lama banget sih tadi naek bisnya ?” Sambil ngos-ngosan kesel saya tanya.

“Hape gue ketinggalan coy tadi di pemeriksaan barang terakhir, gue buru-buru kan, malah ngambil hapenya Maruf, terus kita dah bis,lha gue nyadar yang gue pegang hapenya Maruf, terus gue lari dari bis ke ruang pemeriksaan terakhir mau ngambil hape gue..”

“Nah awalnya petugasnya kaga percaya itu hape gue, untung wallpaper hapenya foto gue, gue tunjukin, nah kan Pak, mirip kan Paak fotonya ama saya ?? Terus gue lari ke bis lagi” , Jawab si Baceng.
Dan tidak begitu lama dari dia cerita, pintu pesawat tutup. Pesawat boarding. Dan Maruf kembali nyari toilet buat pipis di pesawat..

Ngos-ngosan ngejar pesawat. Dipikir angkot kali bisa pake kejar-kejaran


Selasa, 14 Juli 2015

Menerjang Badai Di Gunung Sumbing



Wuussshhh... Grodok..Grodok... Suara angin kencang menerpa tenda-tenda. Angin bercampur air hujan dan udara dingin dalam gelap malam. Siapa pun tidak ada yang mau keluar dari tenda kalo nggak kepaksa, tapi kami berempat harus keluar tenda, air dari hujan mulai merembes ke dalam. Wow di luar sangat...Dingin, berangin, dan basah...

***
Gunung Sumbing, 3371 di atas permukaan laut. Terletak di Kabupaten Wonosobo dan Kabupaten Magelang, terletak bersebelahan dengan kembaranya, Gunung Sindoro. Januari taun 2014 saya dan beberapa teman mendaki gunung ini, tapi gagal puncak karena terjangan badai yang kuat, sehingga kami hanya sampai pos Pasar Setan. Gunung yang konon punya salah satu trek yang paling berat di Jawa Tengah (saya setuju dengan ini).

Bulan April 2015, seharusnya menurut pelajaran geografi yang dulu saya pelajari bulan ini sudah masuk ke musim kemarau, atau minimal hujan tidak terlalu sering. Tapi perubahan iklim yang terjadi sepertinya sehingga di hari-hari terakhi bulan April pun hujan masih turun dengan deras, terutama di kota Yogyakarta.
Tapi sudah lama sekali saya tidak mendaki gunung, dan ini kesempatannya sudah ada.  Sebelum musim ujian, dan sebelum pendadaran. Teman pendakian kali ini jadi hanya 4 orang,  Tyo, Mar'ruf, dan Aziz.
Hanya 4 orang karena kebanyakan yang diajak juga khawatir masalah cuaca. Tapi setelah kita kontak basecamp pendakian Sumbing via desa Garung, ternyata jalur aman untuk pendakian. Maka berangkatlah kita.

24 April malam jam 10 berangkat dari Jogja dengan dua motor, menembus rasa dingin dan ngantuk, plus.. lagi-lagi hujan turun. Dibela-belain begitu karena target rencana naik ke Sumbing tanggal 25 April, Sabtu pagi, biar minggu dah pulang dan seninnya dah bisa aktivitas kayak biasa. Kenapa jam 10 ? Ini yang salah.. kelamaan ngaret.
Sekitar pukul dua malam, kami tiba di basecamp pendakian Sumbing di Desa Garung, Wonosobo. Istirahat tidur sebentar biar besok pagi siap.

Pagi pukul 09.30, persiapan sudah oke. Kita pun maju, menuju puncak Gunung Sumbing.
Ma'ruf, Tyo, saya dan Aziz di depan basecamp Desa Garung

Jalanan dari basecamp menuju Sumbing

Perjalanan awal melewati rumah-rumah penduduk dan perkampungan. Sudah ada tanda-tanda panah arah petunjuk untuk pendakian. Selepas perkampungan trek berikutnya adalah perkebunan warga dengan jalan menanjak dan jalan yang terbuat dari batu. Sesekali akan bertemu dengan para petani yang mengangkut hasil bumi dengan berjalan atau memakai motor cross. O iya, selama trek perkebunan ini kita sebenarnya bisa naik ojek sampai ke batas area perkebunan di pos satu. Kira-kira dari base camp sampe pos satu harganya 20 ribuan(klo belom naek). Kira-kira klo naek ojek katanya nyampe pos satu sekitar 15-30menitan, tapi yaa... namanya juga motor cross, ngeri bro liatnya. Klo jalan kaki paling sekitar 1,5 jam-an. Jauh juga dan karena tanjakannya lumayan nanjak ya capek juga. Pegel dengkul. Padahal baru trek awal.

 Istirahat dulu
 Lanjut lagi
Nyampe di pos I

Selesai nglewatin kebon-kebon kita nyampe di pos I. Ada bangunan beratap semi-permanen yang juga merupakan warung dan pangkalan ojek untuk dari atau ke pos I.
Lanjut dari pos I, seperti kebanyakan gunung di Jawa Tengah pada umumnya, akan melewati hutan dengan trek tanah yang karena masih musim hujan jadi licin. Trek hutannya seperti di Merbabu, ya lumayan nanjak lagi tapi. Sampai akhirnya tibalah di pos II, Genus, yang berjarak kurang lebih 1,5-2 jam.

 Trek setelah pos I
Pos II, Genus

Pos II hanya berupa tanah yang agak lapang, dan sebenarnya bisa dibuat tempat camp, tapi dari pos II jika akan dilakukan summit attack akan makan waktu banyak, karena masih lumayan jauh dan melelahkan. Bahkan trek yang paling melelahkan justru setelah pos II.
Dari pos II kami melewati daerah bernama engkol-engkolan. Nah ini mungkin yang membuat gunung Sumbing punya trek yang agak berat dan melelahkan, di bagian ini treknya nanjak banget, antara, tanah dan batu-batu. Kita kayak "ngengkol" terus, bisa kadang klo kita melangkah kaki dan lutut dah di deket leher, merayap, dan jarang sekali jalan landai... Dan lumayan jauh. Bikin frustasi, karena ga nyampe2 dan ngengkol mulu. Treknya lumayan bisa merusak sepatu dan apalagi licin.

Semua berakhir ketika kita mencapai suatu tanah datar, yang kebanyakan pendaki juga menjadikan ini tempat camp, yaitu Pasar Setan. Suatu tanah yang benernya ga terlalu datar, harus pinter-pinter nyari spot yg enak buat ngecamp, yg ga terlalu ke ekspos angin banget (karena semak-semaknya dah jarang), dan agak datar buat ngediriin tenda. Pasar Setan juga ga terlalu luas sebenernya jadi ya cepet2 cari tempat keburu diambil pendaki lain yang mau ngecamp disitu juga. O iya, karena jarang semak-semak cari tempat pipis juga agak susah lho.
Salah satu wilayah engkol-engkolan yang sempet terfoto.


 Tempat camp di Pasar Setan
 Karena hampir tidak tertutup semak-semak, bila tidak ada kabut gunung Sindoro bisa terlihat jelas

Dari pos II ampe tempet camp bisa makan waktu kira-kira 3-4 jam. Saat itu cuaca berkabut, berangin, dan bertanda akan ada hujan deras..
Selesai mendirikan tenda udara beserta masak,solat dan lain-lain, semua jadi mager di dalem tenda, hanya tidur, lambat laun cuaca berubah, semakin malam angin semakin kencang... wussssh
Lama-lama kami tidak bisa hanya di tenda, cover tenda lama-lama kena rembes air hujan, padahal dah dilapis ama ponco juga. Kami pun keluar buat benerin tenda lagi biar lebih rapet ga kena rembesan air. Hujan jadi deres banget. di tengah dinginnya malam beserta angin kencang, akirnya tenda bisa lumayan tercover dengan baik, tidak kacau lagi kena terjang angin, walopun sebagian tenda dah kena rembesan air dan basah. Untungnya badai kali ini tidak membuat kami semua harus turun gunung, begitu juga dengan pendaki lain, meskipun angin cukup kuat.
**
Pagi hari kabut masih tebal. Jarak pandang sangat terbatas. Angin juga bertiup kencang. Rencana untuk summit attack jam 5 pagi kami tunda dulu. Sambil berharap angin jadi lebih tenang dan kabut segera hilang.
Sudah tidak lagi mengejar sunrise karena tidak memungkinkan. Kami memutuskan jalan untuk summit attack baru sekitar pukul 07.30 setelah sarapan.
Jalanan menuju puncak dari tempat camp tidak menjadi lebih ringan dari engkol-engkolan. Ada pos Pasar Watu dan Watu Kotak yang harus dilewati sebelum puncak. Semua penuh batu, menanjak banget, bikin pegel dengkul parah...
But... Dari sini keindahan Gunung Sumbing mulai terlihat jelass.. Dengan background dibelakangnya Gunung Sindoro, tanaman-tanaman edelweis, juga bukit-bukit hijau di bawah yang bentuknya dah kayak perosotan warna ijo. Subhanallah.

 Lanjut dari tempat camp

 Sampai di Pasar Watu. Keliatan kenapa kan dinamain Pasar Watu? bukan karena pada jualan batu, tapi batunya banyak, jalannya juga berbatu-batu. Tebing di Pasar Watu ini curam
 Ngelihat ke bawah Pasar Watu ada punggung2 bukit hijau yang meliuk-liuk
 Jalan-jalan sempit berbatas langsung dengan jurang


Ke Watu Kotak. Sebuah batu besar yang bentuknya tidak kotak sih, yang ada di ujung foto.
Pos Watu Kotak. Bisa juga dijadikan tempat camp disini, tapi tempat yang ada kecil.

Selepas Watu Kotak, jalannya masih tetep ga nyantai, naik terus, bahkan ada yang pake tali buat naik. Sampai nanti bakal ketemu dua jalur yang udah ditandain plang anak panah buat ke Puncak Kawah atau ke Puncak. Sebenernya sama aja sih, cuman di Puncak Kawah bakal lebih jelas buat ngelihat kawah Gunung Sumbing yang udah lama ga aktif di bawah. Bau belerang disini cukup tajam tercium.
 Ini talinya dah ada dari sananya
 Simpang jalan. Terserah mau pilih mana

Kita belok ke puncak kawah. Tidak jauh dari plang sampai deh di Puncak Kawah. Fiuh... Beneran pegel coy. Lebih pegel dari naik Merapi. Dan seinget saya juga Rinjani di bagian beratnya juga ga seberat ini.
Pukul setengah 11 kami sampai di puncak kawah. cukup jauh ya.
 Ngopi ama makan-makan dulu
 Kawah Gunung Sumbing
Foto-foto dengan sisa kabut dan angin

Kurang lebih satu atau satu setengah jam di puncak kami lalu turun, dengan harapan kami tiba di bawah basecamp tidak terlalu malam.
 Kemudian turun..
Edelweis

Turun dari Sumbing bisa jadi cepet banget karena treknya jadi turun banget. Yang perlu diwaspadai adalah hati-hati terpleset dan potensi trek yang merusak sepatu.
Cepet banget, sejam kami sudah sampai tempat camp, berbenah, dan langsung turun ke bawah.

Menjelang maghrib kami sampai di Pos I lagi. Tapi sayangnya hujan deras langsung turun, membuat kita harus menunggu disana sambil ngopi atau nyusu jahe di warung situ. Baru kemudian lanjut lagi ke basecamp.
Hari itu juga setelah mandi dan makan kami balik ke Jogja dengan motor.

Kaki sampe jogja ga ilang pegelnya 3 hari...